(Sepertinya) Abahku Pengidap Skizofrenia, Aku?


#Catatan #FeedBack #NgajiLiterasi

Masya Allah Alhamdulillah Laa hawlawalaa quwwata illa billah…

Betapa Allah sangat mencintai hamba-Nya, mencintai saya. Dengan ujian yang diberikannya tentu bukan untuk menyiksa tapi untuk menghapuskan dosa-dosa saya.

Bersamaan dengan itu ternyata Ia pun telah menitipkan sebuah peta untuk saya agar mampu melalui lika-liku ujian itu.

Saya yang besar jauh dari literasi, ada saja cara Allah membuat saya akhirnya jadi bagian dari komunitas literasi.

Ternyata menulis itu sangat bagus sebagai terapi mental. Dan saya baru tahu akhir-akhir ini saja. Dikuatkan kembali oleh Mba Evyta saat sharing di grup Ngaji Literasi.

Saya semakin bersyukur, mungkin kalau saya tidak tercebur ke komunitas kepenulisan dan akhirnya diberikan Allah kemudahan dalam menuliskan apa saja yang mengga jal di dada. Bisa jadi saya menjadi penderita Skizofrenia akut. Ciri-ciri yang disebutkan Mba Evyta Ar sebagian besar saya pernah alami. 

Alhamdulilla juga ada cinta yang besar dikirimkan Allah lewat pasangan hidup hingga (tanpa saya sadari) menetralkan kembali depresi berat saya.

Sekilas mungkin tak ada yang tahu bagaimana saya pernah “gila” dan memangsa anak-anak saya.

Saat sadar betapa tak layaknya perlakuan saya pada mereka, saya terluka, sedih dan menyesal dengan menghakimi diri saya adalah pendosa.

Yang paling saya ingat, saya pernah meneriaki bahkan mengguncang tubuh batita saya yang tak berdosa pada saat dia terpeleset di lantai yang licin. 

Seharusnya saat itu saya memeluknya, tapi entah apa yang merasuki, saya malah membentakanya. Mengguncang tubuh kecilnya hingga sakit hatinya mungkin lebih sakit dari sakit fisiknya.

Pada saat itu kondisi parah-parahnya, saya sedang hamil besar. Lelah pastinya. Saya bekerja bukan atas kehendak sendiri tapi memenuhi keinginan dan sekaligus kebutuhan orangtua.

Tapi bukan karena membenci itu semua. Lelah fusik sebenarnya tak selalu masalah. Bahkan merasa bangga dijadikan Allah keran rezeki bagi orang lain. Apalagi buat orangtua sendiri.

Apapun yang dipinta orangtua adalah hak mereka. Anak mana yang tak bahagia bisa membantu orangtuanya. Tapi jiwa saya terguncang karena orangtua saya selalu bertengkar hebat. 

Meraka selalu melibatkan saya di dalamnya. Kadang saya iri, liat teman-teman, kalau ada masalah bisa minta nasehat orangtua.

Saya? Justru selalu direcoki oleh pertengkaran orangtua. Saat saya juga ada masalah jadilah depresi melanda jiwa. 

Mereka tak mau tahu betapa saya juga punya masalah baik di rumah, di tempat kerja atau lingkungan lainnya.

Dan yang paling membuat saya tidak tahan adalah Abah selalu menceritakan keburukan tentang Mama. Kadang hingga pada perkara yang sama sekali tak layak didengar oleh saya sebagai seorang anak.

Bahkan beliau tak sungkan menceritakan aib-aib tersebut pada orang lain. Siapa saja yang beliau temui. Jadilah rasa takzim saya ke Abah mulai tergerus.

Ada benih kebencian yang mulai tumbuh. Saya sulit untuk sekedar bisa berdiam saat beliau mengadu tentang Mama.

Bahkan setiap beliau mendekat, saya trauma. Saya menghindar dan jika terpaksa harus menghadapi, saya selalu melawan argument beliau. Ujung-ujungnya saya dikatai berat sebelah. 

Saya pun mendogma diri saya. “Ah, kamu gak layak jadi penyampai kebenaran. Dirimu aja gak bener. Anak kamu bentak. Menghadapi orangtua saja kamu tidak sabar. Kemana-mana menyampaikan harus baik pada anak, pada orangtua, eh kamu sendiri belum bisa bagus.”

Dan bisikan itu selalu menghantui saya. Alhamdulillah Allah masih sadarkan saya. Otak waras saya menampik.

“Memangnya kalau kamu berhenti dakwah, masalahmu bisa selesai? Sudah lah jalani saja. Namanya juga manusia, pasti Allah uji. Semakin tinggi tingkatan manusia, bukankah ujiannya semakin berat. Jika salah, minta maaflah, usahakan jangan ulangi lagi.”

Nanti saat kumat, saya lupa diri lagi. Dan setelah sadar saya kembali tersiksa dengan bisikan penghakiman pada diri saya sendiri.

Dan Abah saya pun terkena serangan stroke, gangguan syaraf ringan.  Saya mulai berusaha menerima sikap Abah.

Oh mungkin ini bawaan penyakit beliau. Tapi Abah selalu menjadikan penyakitnya sebagai tameng kemarahan dan segala sifat buruknya.

Selalu menyalahkan kami yang ada disekelilingnya atas segala masalah yang beliau buat sendiri. Ini yang membuat kami merasa tak terima. Padahal beliau kelihatan sudah sehat dan normal. 

Oh iya, saya lupa cerita, awalnya saya dan ortu tinggal beda kota. Waktu itu saya gak pernah marah-marah sama anak pertama saya. Padahal saat itu saya juga bekerja.

Kemudian atas sebuah kondisi orangtua pindah dan bikin rumah samping rumah kami. Hanya berjarak tak lebih dari satu depa.

Sejak saat itulah keadaan berubah. Bertepatan dengan Mama sedang mengurus keberangkatan haji beliau. Dan inilah sumber masalahnya.

Jadi dulu saat saya masih lajang, saya punya bisnis yang singkat cerita dapat uang tunai 20jt kalau tidak salah, intinya buat pergi haji.

Karena di awal usaha, saya memang punya cita-cita memberangkatkan orangtua haji. Berhubung uangnya hanya segitu, maka hanya cukup buat 1 kursi keberangkatan.

Maklumat saya Rasulullah bersabda “ibumu, ibumu, ibumu,…” jadilah yang saya daftarkan adalah Mama.

Tapi mama waktu itu tetap bilang ke saya, “Coba tanya Abahmu dulu, siapa tahu beliau mau duluan.” Saya pun menanyai Abah.

"Abah masih begawi, ngalih izin, biar Mama ikam aja dulu.”

Bak gayung bersambut, kebetulan dalam hati saya. Alhamdulillah Abah nerima. Aslinya Abah saya tipe penyabar. Sejak kecil sekalipun saya gak pernah beliau marahi.

Hingga saat jadwal keberangkatan haji mama menjelang hari H. Dan saat itu Abah pindah kerja. Entahlah benar atau tidak, menurut Mama di kerjaan yang baru itulah Abah dapat hasutan.

“Kenapa istri yang duluan pergi haji. Harusnya suami sebavai kepala keluarga yang harusnya duluan.”

Abah pun berubah, sering mengungkit-ngungkit masalah yang dulunya gak masalah. Selalu menilai buruk apapun yang Mama lakukan.

Watak Mama yang memang agak keras, tak mau diam saja diperlakukan demikian. Akhirnya terjadilah gesekan-gesekan tak berkesudahan. 

Selepas Mama datang berhaji, kelakukan Abah semakin menjadi. Sudah biasa jika tetangga kami mendengar teriakan, bahkan sumpah serapah dari Abah bila sedang lepas kendali. Kadang Mama juga menimpali. Dan saya pun seringkali ikut bersuara tinggi.

"Gila, pengemban dakwah tak bisa rem suara." Tapi saya sudah tak sanggup lagi untuk diam.

Rumah kami dekat bandara. Saat ada pesawat lewat, Abah tiba-tiba memanggil anak kami. “Nah liati pesawat tu nah Cu, Kai ni sampai mati gin kada bakalan tenaiki pesawat”.

Itu bukan oertama kalinya beliau menyindir masalah naik pesawat. Otomatis saya merasa ucapan itu adalah sindiran bagi kami yang sudah pernah naik pesawat. Bukan karena banyak uang.Tapi mau tak mau karena mertua di sebrang pulau.

Akhirnya saat melahirkan anak kedua, saat mertua kami datang ke rumah kami. Kami ada-adakan uang yang sebenarnya sudah habis terpakai buat biaya lahiran dan aqiqah si bayi. Kami berharap setelah naik pesawat, beliau bisa membaik.

Alhamdulillah tak lagi menyindir tentang pesawat. Tapi tentang haji masih saja. Bahkan segala hal yang tak masuk akal pun masih beliau ributkan dan kaitkan semua itu terjadi karena Mama naik haji duluan.

Padahal atas seizin beliau juga, batin saya tak terima. Dan beliau keukeuh gak mengakui itu. Tetaplah kami yang salah.

Duhai waktu andai bisa kutarik kembali. Ingin rasanya kurubah semua kejadian masa lalu. Meski bagiku tidak ada yang salah sebenarnya. 

Oke, kita carikan uang lagi agar Abah bisa melihat Mekah. Tentu saja umrah adalah pilihan kami, agar cepat melihat Mekah dan amarah Abah bisa reda.

Kalau haji entah kapan bisa berangkatnya. Kami jual apa yang bisa dijual. Istilah orang Banjar, tehutang dua hutang.

Sampai ada temen yang bilang, “buhan pian itu serabanya ditangkap”. (semua kerjaan/usaha diambil).

Saya dan suami kerja, jualan dan apa saja. Mungkin ini juga salah satu penyebab saya super labil. Capek badan, capek fisik juga.

Masya Allah di sinilah syukur saya harus saya besarkan. Mungkin tak semua suami berbaik hati seperti suami saya.

Beliau terima kerja sebagai apa saja yang penting halal demi memenuhi keperluan saya dan keluarga saya. Semua dana beliau yang memikirkan. Itu saja saya masih stress. Astagfirullah.

Alhamdulillah tak terlalu lama Abah pun bisa berangkat. Wajah senang menggelayuti beliau.

Alhamdulillah rasanya sudah lepas ‘kesusuban’, bisa bernafas lega. Tinggal nyicil hutangnya pelan-pelan. Kehidupan bisa kembali normal. Itu harapan kami.

Dan sepulang dari umrah, ternyata masalah belum selesai. Keributan besar pun kembali pecah berkali-kali.

Masalahnya selalu Mama salah ini, salah itu. Intinya masih saja keburukan Mama selalu ada di kapala Abah. Masih saja kasua haji jadi masalah. 

Saya semakin stress, sudahlah hutang banyak, ternyata apa yang kami harapkan jauh panggang dari api.

Sudah terlanjur basah, kami pun akhirnya menambah hutangan. Dalam waktu beberapa bulan kemudian kami kembali mendaftarkan Abah untuk haji.

Setidaknya dengan adanya nomor porsi, Abah bisa yakin kalau kami pun berusaha memberangkatkan beliau. Kami tidak pilih kasih. Bahkan beliau dobel, umrah sudah, haji Insyaallah.

Selama menanti nomor urut haji ini beliau terkena stroke lagi 3 kali, cukup parah hingga ada gangguan penglihatan.

Hanya saja secara fisik beliau termasuk cepat pulih. Hingga sekarang masih bisa jalan, tapi pikiran beliau masih sama. 

Akhirnya Mama pun sudah tak tahan, sekarang beliau tinggal di rumah kami. Sedang Abah ada di rumah sebelah.

Banyak kisah yang tak tersampaikan di sini, dan inipun sudah panjang sekali. Mungkin banyak blank spot yang bikin teman-teman tak mengerti. 

Intinya dari materi dari Mba Evyta ini saya berusaha semakin mengerti kondisi Abah saya. Mungkin beliau salah satu pengidap Skizofrenia akut.

Kasian beliau. Dan untuk terapi menulis atau membaca jelas tak bisa saya aplikasikan. Beliau tidak lancar dan tidak suka baca sama sekali. 

Jika cinta pasangan adalah obatnya, ini juga kendala. Nampaknya sulit membuat Mama berubah pikiran. Karena saat marah, Abah seperti orang kerasukan, dan selalu Mama yang jadi bulan-bulanan.

Sedangkan saya pun rasanya tak bisa menunjukan cinta yang sangat besar pada beliau, mungkin karena saya perempuan. Sulit berakrab-akrab dengan beliau sebagaiman dengan Mama. Selain itu sikap beliau memang benar-benar menguji kesabaran saya yang masih sangat sempit.

Terakhir beliau setelah mengamuk hebat, menyalahkan saya. “Gara-gara ikam ni pang menulakakan Mama ikam haji bedahulu, jadi kayak ini kisahnya.”

Ya Allah rasa luruh seluruh energi tubuh saya saat itu. Betapa kami harus berjuang untuk semuanya tapi masih saja salah. 

Padahal beliau bisa lihat bagaimana kami tepatnya suami saya yang bukan orang kaya ini kesana kemari demi semuanya.

Hati saya belum luas untuk menerima semua ini. Tapi saya selalu berusaha, menata hati. Dan lagi-lagi materi ini membuat saya bisa kembali berfikir. "Ah mungkin begitulah efek orang terserang Skizofrenia". 

Setidaknya setelah ini saya ingin lebih menyayangi diri saya sendiri. Saya tak mau kisah Abah terulang lagi. 

Dari cirri-cirinya, Abah sepertinya benar-benar menderita Skizofrenia. Selain sering seperti orang kesurupan, dan ini selalu terjadi dalam rentang waktu tertentu. Meski kondisi tenang, ada saja yang beliau jadikan masalah baru.

Beliau juga sering bicara sendiri, menceritakan ketemu dengan orang aneh dan seolah diberi petuah lewat bisikan-bisikan.

Tapi jika sedang baik, beliau normal seperti orang bisa. Semoga akan terus membaik setelah ini.

Semoga saya juga diberi kekuatan untuk bisa terus membersamai orangtua dengan lebih baik lagi dari hari ke hari. Dengan tetap menjaga kewarasan diri sendiri tentunya. Mohon doa dari teman-teman semua.

Sebenarnya saya enggan menulikan ini, tapi saya percaya cerita ini aman hanya sampai di teman-taman saja. Saya berharap ini bagian dari terapi saya. Semoga bisa lebih baik lagi setelah ini.[]


1 komentar :

  1. Masya Allah ... Kisahnya bikin haru, ya, kalau sudah berkaitan dengan keluarga. Semoga ortunya mbak Umi diberi kebaikan selalu.

    Btw, untuk mengetahui diagnosa gangguan mental, umumnya kita mesti ke dokternya, Mbak. Memang gak semua gangguan mental itu bisa disebut skizo. Ada juga jenis lainnya. Bisa jadi hanya masih sebatas pikiran atau stress saja, Mbak. Semangat ya!

    BalasHapus

My Instagram

Designed By OddThemes | Distributed By Blogger Templates