Enam Cara Menghadapi Suami yang Lemah Urusan Nafkah


Oleh: Umi Diwanti


Di tulisan sebelumnya sudah dibahas beberapa penyebab para suami tak punya etos kerja. Maka kali ini kita coba sharing cara menghadapinya sesuai penyebabnya.

Silakan baca: Delapan Perkara yang Bikin Suami Tak Punya Etos Kerja

Pertama, suami yang tidak pahan kewajiban nafkah ada di pundaknya. Kita harus menyadari dulu bahwa bagaimanapun keadaan pasangan kita, dia adalah pilihan kita. Maka jika ada sesuatu yang kurang pas, bicarakan baik-baik.

Sebelumnya istri harus membebaskan hati dan pikiran dari rasa gregetan, marah atau hal negatif lainnya. Pastikan semangat kita mengingatkannya bukan karena emosi apalagi hasil provokasi. Jangan!

Jernihkan pikiran, pastikan bahwa kita melakukan ini semata menjalankan kewajiban amar ma’ruf nahi mungkar pada suami tercinta. Dengan niat yang lillah insyaallah urusan menjadi lebih mudah.

Sampaikan dengan cinta bahwa kita menginginkannya bekerja bukan karena tidak mensyukuri nikmat yang ada. Bukan pula karena enggan membantu suami. Tapi karena kita ingin meniti jalan ke Syurga bersamanya. Salah satunya dengan menjalankan peran suami istri sesuai yang Allah tetapkan.

Kedua, menghadapi suami yang salah memahami makna rezeki. Jika murni ini karena salah paham, maka akan selesai dengan meluruskan kesalahpahaman.

Jika kita sebagai istri tidak punya kapasitas menjelaskan, ada baiknya minta bantuan ulama atau orang yang suami kita percayai.

Selanjutnya, (untuk poin 1 dan 2) kita sebagai istri juga harus konsisten. Suami itu kadang gak mau terima pendapat kita bukan karena pendapat kita salah. Tapi karena cara penyampaian yang salah atau sikap kita yang plin plan. Kita minta suami ideal sementara kita tak berusaha ideal.

Ketiga, untuk kasus suami pemalu dan penakut istri harus hadir sebagai motivator dan inisiator.

Jangan bosan memperlihatkan peluang usaha dan selalu yakinkan suami bahwa Allah menilai proses bukan hasil. Istri pun harus membuktikan dengan selalu mensyukuri rezeki yang Allah beri.

Dan jika suatu hari saat suami mencoba dan gagal, maka tahanlah dari sikap menyalahkan. Bantu suami mengevaluasi untuk memperbaiki.

Dalam kondisi ini sebenarnya kita dan suami sama-sama diuji. Apakah kita masih yakin dengan konsep rezeki biyadillah wahdah (di tangan Allah semata). Peluk suami untuk saling menguatkan.

"Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya) dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (TQS: Al-Anbiya’: 35)

Keempat, menghadapi tipe suami gengsian. Perlu kita cek, gengsinya dipengaruhi oleh apa. Jika suasana pertemanan atau lingkungan maka tak ada jalan lain kecuali hijrah.

Carilah lingkungan baru dan teman-teman baru. Yang bisa mendukung perubahan yang diinginkan. Tak bisa dipungkiri, lingkungan dan teman sangat besar pengaruhnya.

Jika bawaan keluarga besar, maka bisa kita tempuh dua jalan. Beri pemahaman pada keliarga besar atau yang lebih gampang adalah membatasi (sementara) interaksi dengan keluarga yang memberikan pengaruh tersebut.

Kelima, untuk tipe anak mami bisa menempuh cara 1 dan 3. Sebab biasanya mereka begitu karena gak paham kewajiban nafkah.

Adapun tipe anak mami yang kecenderungannya pada sifat mental tidak mau capek. Mau enaknya saja. Maka suami macam ini perlu diruqyah eh digugah deng.

Tanyakan baik-baik apa maunya dia menikahi kita? Jika jelas-jelas ingin menjadikan istri mesin uang atau penopang hidupnya. Katakan kalau dia salah orang.

Di sini kita perlu mengelola hati. Jangan sampai rasa cinta kita pada suami (manusia) melebihi cinta pada Allah dan Rasul-Nya. Sehingga apapun yang dia mau selalu kita ikuti padahal tidak benar.

Keenam, ketiadaan lapangan kerja dan permodalan untuk berwirausaha. Ditambah suasana ekonomi sistem ribawi dan rimbawi. Tak ada makan siang gratis. Siapa yang kuat (modal) dialah yang menguasai pasar. Rakyat kecil tak kebagian.

Kasus ini tentunya tidaklah dikehendaki para suami. Karenanya sebagai istri kita harus meninggikan sifat qonaah dan memotivasi suami untuk pantang menyerah.

Hanya saja, Isalm tidak membiarkan semua masalah ditanggung dan diselesaikan sendiri oleh individu. Allah Maha Tahu makhluk ciptaan-Nya tidak sama tingkat kesabaran dan keimanannya.

Karenanya Allah tak hanya menetapkan peran suami dan istri tapi juga peran negara dalam mempertahankan ketahanan keluarga.

Allah mewajibkan negara menyediakan pendidikan yang memberikan pemahaman agama sebagai pelajaran utama. Hingga setiap laki-laki dan perempuan melek hak dan kewajibannya masing-masing.

Allah juga mewajibkan negara membuka lapangan kerja pada setiap laki-laki dewasa. Jika sudah paham dan lapangan kerjanya ada tapi enggan. Maka negara berhak memberikan sanksi.

Adapun bagi mereka yang uzur entah karena fisik atau mental yang tidak memungkinkan. Maka nafkah keluarga akan dibebankan negara pada keluarga (jalur perwalian) yang mampu. Jika tak punya, negaralah yang akan menanggungnya.

Jadi, solusi pamungkas untuk menormalisasi peran suami dan istri tidak lain adalah normalisasi fungsi negara.

Karenanya yang bisa kita lakukan saat ini, selain mengupayakan poin 1-6 semampu kita. Berharap pahala melimpah dari-Nya.

Kita juga perlu berupaya memahamkan sesama kita, bahwa Islam tak cukup hanya diamalkan oleh individu. Tapi juga oleh negara.

Niscaya semua masalah akan terpecah. Mewujudkan keluarga samara lagi berkah tak lagi susah. Insyaallah.

Posting Komentar

My Instagram

Designed By OddThemes | Distributed By Blogger Templates