Saat Mendidik Anak Terhalang Kehadiran Orangtua atau Mertua, Begini Solusinya


Oleh: Umi Diwanti

Mungkin berbagai parenting telah kita ikuti. Banyak buku kita baca. Berbagai cara pun sudah kita lakukan untuk melakukan perbaikan dalam mendidik anak-anak kesayangan.

Cita-cita tinggi pun telah kita pancangkan. Hingga akhirnya sedikit demi sedikit kita berhasil menemukan style mendidik yang (menuju) ideal.

Namun tiba-tiba sebuah usaha yang sudah sedemikian rupa seolah seperti sia-sia. Tersebab kita tak hanya tinggal bersama ananda. Tapi ada orangtua/mertua yang sedikit banyak turut mengoles warna dalam pendidikan anak-anak kita.

Kalau frekuensi pertemuan ananda dengan bliau hanya sebulan sekali dan hanya beberapa hari, mungkin tak terlalu berarti. Apalagi yang cuma setahun sekali. Bagaimana yang tiap hari? Tersebab kita tinggal berdekatan atau bahkan serumah dengan orangtua atau mertua.

Kita sudah kasih jadwal pinjam HP, ternyata oleh kakek neneknya malah dibeliin HP pribadi. Kita sudah biasakan anak berdisiplin dan bertanggung jawab. Tiba-tiba si eyang bilang, "udah gak usah keras-keras sama anak. Nanti biar eyang yang beresin", dan itu dihadapan anak.

Atau pas anak bikin kesalahan lalu kita berikan sanksi yang sudah kita sepakati bersama. Opa omanya malah kasih dispensasi. Akhirnya ananda menjadi seperti lepas kendali oleh kita. Lebih condong pada kakek neneknya, duh pasti rasanya ambyar. 😪

Ada juga yang sebaliknya. Kita berupaya tak keluar kalimat negatif sedikit pun. Melatih diri agar tak bicara kecuali dengan nada stabil dan konten penuh makna.

Dengan harapan, ananda akan tumbuh jadi sosok lemah lembut dan santun. Namun tiba-tiba ananda bicaranya nyaring, suka mengumpat bahkan berani bersikap kasar. Tak jauh dari apa yang diperlihatkan nenek/kakeknya.

Dan tahu sendiri, bukan sesuatu yang mudah meminta ortu/mertua merubah sikap beliau. Salah bicara, bisa-bisa kita akan segera dianugerahi gelar anak/menantu tak tahu diri.

Kalau sudah begini pastinya Bunda akan merasa sangat putus asa dan kalau bisa mau pindah saja. Ingin jauh dari mereka.

Sayang pindah pun bukan perkara mudah. Apalagi ortu/mertua kita sudah lanjut usia dan kewajiban merawat beliau ada di pundak kita.

Rasanya seperti Jaka Sembung naik ojeg, kalau karena kita ingin hasil didikan kita ananda tumbuh jadi anak berbakti dengan cara mengirbankan bakti kita pada orangtua.

Lalu bagaimana harusnya? Izinkan saya sedikit berbagi. Karena saya adalah salah satu yang mengalami. Awalnya kami berjauhan dengan ortu. Karena satu dan lain hal, sekarang rumah kami hanya berjarak satu depa. Bahkan garasi motor kami jadi satu.

Awalnya sempat merasa terprovokasi dengan cara beliau berkomunikasi. Emosi yang susah payah kami eliminasi selama ini, seolah menyeruak kembali.

Di sisi lain saya sadar, ini menjadi hal buruk bagi anak-anak. Sampai akhirnya saya bilang ke suami, "kita pindah aja yuk". Syukurnya bliau gak ikuti.

Bliau bilang "Sudah lah Mi, kita berusaha saja sebaik-baiknya, masalah hasil serahkan pada Allah. Kalau kita pergi pasti ortu akan sedih".

Ya, yang pertama harus kita lakukan adalah meyakini bahwa Allah menilai proses, bukan hasil. Maka tetaplah pada pola pendidikan yang sudah kita yakini kebenarannya. Jika hasilnya belum terasa atau berubah setelah kehadiran 'pemilik Syurga' kita, maka terima saja.

Yakinlah bahwa Allah tak akan membalas usaha baik kita dengan keburukan. Jangan jadikan penampakan sikap ananda yang tak. Sesuai harapan sebagai beban. Perbanyak doa lebih bermanfaat ketimbang sering mengumpat keadaan.

Kedua, resapi dan amalkan Surah Ibrahim ayat 7. "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih."

Saya sering dapat komentar dari teman yang baru tahu kalau saya tinggal deket ortu. "Wah enak ya tinggal dekat ortu, ada yang bantuin jaga anak-anak."

Awalnya mulut tersenyum, hati meringis, "kamu gak tahu aja, susahnya mendidik anak dengan harus 'bersaing'. Beratnya dilemanya tinggal deket ortu."

Ya kalau mau dilist gak enaknya pasti nemu aja. Salah satunya tadi, urusan ketidaksamaan cara dan visi mendidik anak. Tapi jujur deh, kalau mau ngelist kebaikan/kemudahannya juga pasti ada lho. Saya merasakan banget.

Saat ada agenda ke luar rumah, anak baru saja tertidur, saya bisa langsung pergi cuma dengan memberi pesan ke ortu. "Ma titip Si Bungsu, ya, mau dibawa tapi baru aja tidur, kasian kalau dibangunkan." Setelah itu saya bisa langsung nge gas motor.

Sementara teman lain ada yang telat hadir dengan alasan, harus membangunkan anaknya dulu dan akhirnya siap-siapnya telat. Coba kalau saya juga harus membangunkan si Bungsu dulu. Bisa jadi saya lebih telat lagi.

Selain itu yang sangat saya rasakan, ketika anak-anak sakit. Apalagi kalau tengah malam. Saat berbagai obat dan balur membalur segala minyak sudah dilakukan ananda masih kesakitan dan menangis kejer. Saya kadang putus asa dan ikutan nangis.

Dengan sigap ortu datang membawa sesuatu yang oleh kami belum terpikir. Namanya orang zaman dulu, mereka punya resep-resep pengobatan yang tak banyak diketahui kita anak-anak zaman now.

Kemudian beliau ambil alih ananda, dengan kesabarannya digendong, dipijit dan diperlakukan lebih dari yang bisa kita lakukan. Ananda jadi diam dan kita pun jadi tenang.

Bahkan kadang kita dibiarkan tertidur sementara ananda beliau yang jaga. Masya Allah, nikmat Tuhan yang manakah yang bisa kita dustakan? Rupanya kenapa ayay itu diulang-ulang Allah dalam surah Ar-Rahman karena kita sering melupakan nikmat yang ada.

Dan pastinya masih banyak lagi kebaikan yang ada jika kita mau menelusurinya dengan hati penuh syukur. Dengan bersungguh-sungguh mensyukuri nikmat yang ada, yakinlah Allah pasti akan tambah kenikmatannya.

Bisa jadi dengan kemudahan mendidik anak-anak kita. Atau bahkan anak kita suatu hari justru menjadi anak yang kehebatannya diatas yang kita harapkan. Biidznillah.

Ketiga, yakinlah bahwa kesolehan ortu berpengaruh pada kesolehan anak. Sebagaimana Allah abadikan sebuah cerita anak yatim piatu yang terpelihara dan terjaga tersebab dahulu ayah mereka adalah seorang solih. (QS. Al-Kahfi: 82)

Mari kita ingat kembali tujuan kita mendidik anak. Bukankah salah satu yang terpenting adalah mereka menjadi anak yang berbakti pada orangtua. Maka manfaatkanlah kedekatan tempat tinggal kita dengan ortu kita untuk berbuat baik sebanyak-banyaknya pada mereka.

Sigaplah memberikan apa yang mereka perlukan dan bahkan inginkan. Seringlah memberi mereka hadiah, meski hanya beberapa buah kue atau sayur mateng setiap harinya.

Dengarkan dengan penuh perhatian saat mereka bercerita meski mungkin itu bukan yang pertamakalinya. Apalagi jika ortu kita sudah lanjut usia dan mengalami dimensia.

Jika mereka merasa senang dengan kita, maka suatu saat mereka akan mengungkapkannya di hadapan anak-anak kita. Atau membanggakan kita di hadapan oranglain yang anak kita mendengar/menyaksikannya.

"Nanti kamu kalau sudah besar kayak Bapak dan Ibumu yo Le, sayang banget sama Eyang. Kamu jugavmusti sayang dengan mereka." Atau tang serupa meski tak sama.

Bukan,  bukan pujiannya yang kita harapkan. Tapi penokohan kita oleh ortu kita di hadapan ananda itulah yang akan memulihkan atau meningkatkan figuritas kita di hadapan anak-anak.

Otomatis selesailah drama perseteruan dalam meraih kepercayaan anak antara kita dan ortu kita. Justru kepercayaan anak pada kakek neneknya akan semakin mengokohkan kepercayaan anak pada kita. ☺️

Keempat, adalah bagian tak terpisahkan dari poin tiga. Yakni menjalin keakraban. Hanya saja ini lebih kepada membangun komunikasi intens. Cobalah 'berteman' dalam banyak pembicaraan. Hingga suatu hari kita dan beliau bisa saling bercerita apa saja.

Secara alami akhirnya kita akan bisa menyampaikan dengan mengalir visi misi kita dalam mendidik anak pada mereka. Tentu saja bukan dengan bahasa memerintah atau mengajak kerjasama secara langsung. Tapi sekedar dengan pengungkapan harapan atau lafaz-lafaz serupa doa.

"Ma, Pa pasti kami masih banyak kekurangan dan kesalahan dalam melayani penjenengan. Maafin kami ya Ma, Pa. Doakan juga kami bisa mendidik anak-anak kami menjadi jauh lebih baik dari kami. Kalau kami masih sering kasar, semoga kami bisa mengurangi dan anak-anak bisa lebih baik lagi."

Niscaya mereka menangkap pesan positif dari apanyang kita sampaikan. Apalagi kalau diungkapkan saat kita ajak mereka jalan-jalan di akhir pekan atau di rumah saja sambil memijit pundak mereka. Jangan lupa pancangkan doa dan baik sangka kita. Niscaya Allah akan kabulkan hajat kita.

Kelima, jika mungkin menjalin komunikasi dengan mereka perlu proses panjang. Maka yang paling cepat dan mudah kita tempuh adalah mengkomunikasikan visi misi pendidikan lewat lisan oranglain yang terpercaya.

Salah satunya dengan mengajak serta mereka hadir acara parenting sekolah atau umum. Atau hadir ke majelis ta'lim yang membahas pendidikan anak.

Ajak dengan keikhlasan, jangan sampai terbaca ada aroma memaksa karena kita berkeperluan di sana. Orangtua itu sensitif Bunda. Kalau kita kurang soft beliau malah bisa salah sangka.

Dengan mendengar langsung dari ahlinya, sedikit banyak beliau mendapat maklumat tentang bagaimana seharusnya mendidik anak-anak.

Kadangkala kenapa ortu kita beda dengan kita, karena memang beliau belum pernah tersentuh dengan ilmu-ilmu parenting kekinian. Besar kemungkinana bliau akan berubah setelah mengetahui ilmunya. Bukankah kita juga berubah seiring informasi dan ilmu yang kita dapati?

Bagaimana jika beliau ogah diajak hadir. Atau secara fisik ortu kita sudah tidak memungkinkan diajak pergi ke forum?

Jangan sedih dan kecewa. Pertama, kita bisa tetap hadir parenting lalu sepulangnya ceritakan poin-poin pentingnya. Jika bisa direkam, Alhamdulillah. Putar ulang dan dengarkan bersama.

Jika acara parenting juga sulit kita temui maka carilah vidio atau audio pakar parenting yang banyak bertebaran di dunia maya. Putar pada tempat dan waktu yang mereka bisa ikut mendengar.

Saat memutar, tunjukan pada mereka bahwa kitalah yang pertama dan utama mendengarkan. Jadi tidak terkesan kita ingin memutar vidio itu untuk beliau.

Sekali lagi, orangtua itu sensistif. Kita harus slowly memghadapinya. Jangan pernah tampakan kesan menggurui, menghakimi apalagi memerintah beliau. Itu pantangan jika ingin berhasil menjalin komunikasi dengan para 'pemilik Syurga' kita.

Keenam, pastikan kita punya hujah/alasan yang kuat dan benar setiap menyuruh atau melarang anak-anak. Artinya kita tidaklah meminta kecuali yang memang Allah dan Rasulnya minta. Pun kita tidak melarang kecuali apa yang dimurkai dan dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya.

Jadi, jikapun perkataan kita dan kakek nenek mereka selalu beda, anak akan paham mana yang benar-benar benar mana yang tidak, dari hujah yang kita sampaikan.

Anak akan paham jika Bundanya marah bukan karena tak sayang, sebagaimana nenek kakek tak marah. Tapi karena Bundanya tahu itu buruk untuknya.

Ketujuh, terakhir. Kita sebagai ortu wajib selalu bercermin diri dan senantiasa meningkatkan kualitas diri. Jangan-jangan sulitnya anak kita dididik bukan karena efek kehadiran orangtua kita, tapi karena kualitas diri kita sendiri yang masih harus banyak ditingkatkan.

Maka mari kita bersegera mengejar ketertinggalan. Cari ilmu dan komunitas yang mampu menguatkan azam kita menjadi ortu yang baik. Semoga kita disabarkan Allah untuk terus berproses. Sekali lagi, Allah menilai proses, bukan hasil.

Semoga bermanfaat. Bagi Bunda yang punya tips lain, monggo tambahkan di komen ya. Salam istri tangguh dan ibu hebat buat semua. 😍

#Kompaknulis
#OPEy2020bersamaRevowriter
#Revowriter
#OPEy2020Day01
#seriparentingalaumidiwanti

9 komentar :

  1. Masya Allah, super siap di praktekkan kak

    BalasHapus
  2. Masalah yang sama dan terima kasih buat solusinya Mbak. Benar kalau kita cari salahnya mulu pasti ada. Tapi kalau kita cari kebaikannya, pasti juga bakalan ada, dan sebaiknya kita fokus ke kebaikannya saja ^^

    BalasHapus
  3. Wah bener-bener pelajaran buat saya ini Mbak. Menga ada plus minjusnya tinggal dekat ortu. Begitupun jika tinggal berjauhan. Btw OPE ini dalam rangka apa nulisnya Mbak? Apakah semacam blog challenge? hehe

    BalasHapus
  4. Benar mbak, tinggal dekat dgn ortu atau mertua pasti ada plus minusnya.
    Kita sebagai anak yg harus pinter2 mencari solusi ya untuk masalah yang seperti ini.
    Semoga Allah selalu mudahkan dan berikan kesabaran. Amin

    BalasHapus
  5. Saya pun sering denger cerita-cerita temen saya yang sudah menikah. Ada yang deket ortu/mertua ada juga yang hidup terpisah tapi masih menjalin silahturahmi. Mungkin itu salah satu alasannya dari 2015 saya berusaha untuk punya rumah sendiri.
    Cerita mba ini turut menambah pelajaran saya untuk kedepannya :)

    BalasHapus
  6. Setiap pernikahan selalu ada cobaannya masing2 ya mbak. Tergantung kita nangkap itu sebagai syukur nikmat atau kufur. Kalimat2 mbak bikin aku adem bacanya

    BalasHapus
  7. memang kadang suka dilematis ya saat pola parenting kita bertentangan sama orang tua. Aku selama tinggal sama ibu kemarin sih alhamdulillah nggak terlalu ada konflik ya. Mungkin karena masih kecil juga anaknya. Yang agak susah sekarang malah menyamakan konsep parenting sama suami. heu

    BalasHapus
  8. Masyaallah. Ini bener2 banyak kejadian di dunia nyata. Ada 'persaingan' tak terlihat antara ortu dan kakek nenek. Ternyata cara menghadapinya adlh dg lebih banyak bersyukur ya. Semoga aku jg bisa mempraktikkannya seperti itu. Amin.

    BalasHapus
  9. Sangat membantu buat ibu-ibu ya informasi ini. Memang agak susah kan kalau tinggal bareng ortu dan mendidik anak ini, mereka bisa jadi ikut campur.

    BalasHapus

My Instagram

Designed By OddThemes | Distributed By Blogger Templates