Apapun yang Terjadi, Bicarakan Berdua Saja


Suatu hari di pencucian motor ada sebuah tulisan menarik. "Mun barasih habari nang lain, mun kada barasih habari ulun." (Jika bersih kabari orang lain, jika tidak kabari saya).

Saya pikir tulisan ini keren. Memuaskan bagi pelanggan dan terhormat bagi pemilik pencucian motor itu. Tapi kalau prinsip ini dipakai dalam rumah tangga sepertinya kurang pas.

Yang kurangnya sampaikan ke pasangan lalu baiknya ceritakan ke orang. Ini bisa bahaya lho. Bagaimana kalau nanti banyak yang daftar jadi r2, r3, r4 apa emak siap?

Parah lagi kalau kebalikannya. Ada pria lain yang melirik seorang istri yang selalu dipromosikan oleh suaminya sendiri. Siapkah melepaskannya?

Jikapun tidak terjadi yang seekstrim itu, tetap saja kurang baik. Bisa jadi ada suami/istri lain yang akhirnya membandingkan pasangan mereka. Lalu kecewa karena mendapati pasangannya tak seperti pasangan kita.

Memang sih salah mereka juga. Bisa saja kita bilamg ke mereka, "Situnya aja yang baperan. Kalau gak mau baper gak usah baca status saya, kan beres. Gitu aja kok repot!"

Pertanyaannya, memang apa keuntungannya kita publikasikan kebaikan pasangan? Jadi dapat tambahan uang jajan kah? Atau bikin suami tambah sayang? Padahal faktanya kadang berteman saja tidak dengan akun pasangan.

Memang sih manusiawi kadang punya sesuatu yang bagus itu pemgen diceritain. Tapi untuk pasangan sebaiknya disimpan, sampaikan langsung dengan pasangan kita saja.

Itu lebih membuat si dia merasa berarti. Tuliskan langsung perasaan bahagianya kita pada kebaikannya langsung ke WA-nya.

Jika pengen lebih romantis lagi, boleh ditulis di kertas seperta orang tempo doeloe. Paling alhir tuliskan 4x4=16.... Yang tahu sambungannya, berarti kita seangkatan. Sudah tuir. Xixii

Intinya dapur rumah tangga meskipun kebaikan, sebaiknya jangan terlalu diumbar. Apalagi yang kurang baik. Tentu lebih tidak layak lagi.

Pertama, masalah antara kita dan pasangan dijamin tak berkurang dengan mempublikasikannya. Malah berpotensi tambah parah, jika pasangan tak terima. Bisa jadi dia makin keki dan benci sama kita.

Kedua, kita telah menjatuhkan kehormatan pasangan. Jikapun itu membuat kita merasa puas. Ingatlah, dia adalah ayahnya anak kita. Jika anak kita sampai tahu bisa jadi mereka turut membenci.

Tanpa sadar kita telah menanamkan bibit durhaka pada anak kita. Jika kejadian, maka kita pun dirugikan. (Lengkapnya ada di tulisan "Jangan Menyemai Bibit Durhaka")

Bahkan seharusnya bertengkar pun harus sembunyi dari anak. Jangan menceritakan keburukan pasangan pada anak*, apalagi sampai dipublish. Kalau teman anak kita tahu bahwa orangtua mereka 'bermasalah' (yakni kita). Anak kita pun ikut menanggung malu.

Ketiga, Saya ada baca ditulisannya Mba Ria Fariana ada seorang laki-laki memutuskan batal menikahi seorang gadis baik-baik gegara isi sosmed sang ibu (camer). Yang selalu menumpahkan perasaannya di dinding medsos.

Logikanya, kalau suami sendiri aja diomongin apalagi menantu. Maka harus kita perhatikan betul bahwa perbuatan kita seringkali tak hanya berefek pada kita. Tapi pada mereka yang ada di sekeliling kita.

Keempat, pahamilah suami kita bukan sebatangkara. Ada keluarga, relasi dan teman-temannya. Bagaimana jika mereka semua ikut membenci lalu bisnis/kerjaannya terganggu. Atau sebaliknya, mereka justru yakin pasangan kita baik. Maka siap-siaplah kita yang akan dibully.

Kelima, kita juga tidak sendiri. Kita punya orangtua, keluarga, teman dan mungkin penggemar. Kalau mereka tahu keburukan pasangan kita dan mereka tak rela. Bisa jadi maksud kita mempublish cuma sekedar melepas penat, tapi mereka terlanjur "meambilakan hati".

Habislah marwah pasangan kita di mata mereka. Bahkan bisa saja akhirnya mereka memprovokasi kita untuk meninggalkan pasangan. Maka pada posisi ini semakin sulit lah bagi kota mempertahankan keutuhan rumah tangga.

"Tu kan sudah kami bilang sejak dulu, dia itu gak bener, kamu sih mau. Udah tinggalin aja. Masih banyak yang lain yang mau sama kamu!" Masalah tak reda, yang ada kita tambah membar. Atau malah dilema, karena bisa saja saat itu kita hanya emosi sesaat.

Keenam, membuka aib pasangan adalah haram di dalam Islam. Kecuali di depan para qhodi (hakim) demi menghentikan kezaliman dan mendapatkan keadilan. Atau di hadapan orang terpercaya dalam rangka meminta bantuan penyelesaian masalah. Bukan cerita sekedar cerita saja. Apalagi di sosial media.

Oleh sebab itu, kiranya prinsip yang tepat untuk pasutri adalah, apapun yang terjadi bicarakan berdua saja." Niscaya hubungan yang renggang akan berangsur merapat, yang sudah baik akan semakin kokoh.

Yang pasti, saat kita benar-benar mampu menjadi pakaian bagi pasangan. Menutupi segala kekurangannya maka yakinlah Allah akan menutupi pula segala kekurangan kita. Sebab kita juga manusia yang tak mungkin sempurna.

@umi_diwanti

#bukanlayanganputusyanggakputusputus
#nasihatdiri
#nasihatrumahtangga
#keluargasamara
#sehidupsesyurga
#kenalikarakterpasangan
#berbaiksangkapadapasangan
#hindariprasangkaburuk
#bersabardanmintalahpertolonganNya

Posting Komentar

My Instagram

Designed By OddThemes | Distributed By Blogger Templates