Agar Semangat Dakwah Kembali Membuncah


Sering kita jumpai atau bahkan kita alami sendiri. Saat awal disapa hidayah semangat hijrah membuncah. Untuk dakwah semua terlimpah. Waktu, tenaga, pikiran tak peduli lelah badan. Namun seiring berjalannya waktu. Semangat semakin sekarat. Amal menegakkan syariat terasa semakin berat. Berkarat dan tak jarang akhirnya memilih istirahat.

Siapa jamin kita punya umur sampai istirahat kelar. Bagaimana kalau saat istirahat kitanya  yang kelar? Meninggal dalam keadaan tidak berbuat apapun untuk agama Allah, mungkinkah bisa berdampingan dengan Rasulullah dalam Jannah. Padahal itulah impian terbesar kita sebagai manusia.

Oleh karenanya jika sudah terdeteksi futur mulai menggelayuti. Segeralah bereaksi. Kalau bukan kita sendiri yang berusaha menyudahi. Siapa lagi? Masak yo nunggu Bu RT ngunjungi. 😁 Untuk itu setidaknya beberapa hal ini bisa coba dijalani.

Pertama, cek kembali tujuan awal berdakwah. Coba kita ingat-ingat lagi dulu saat memutuskan hijrah  lalu mendedikasikan diri dalam dakwah itu kenapa. Jika karena suami, orangtua, teman, atau guru yang mengajak. Sekedar karena merasa tak enak menolak. Wajar jika orang-orang tersebut telah jauh semangat pun lumpuh.

Atau karena kita berharap dunia di dalamnya. Hijrah berharap menjadi mudah karena komunitas dakwah pasti menolong saat kita dirundung masalah. Jelas ini salah. Semangat pasti akan melemah seiring hadirnya berbagai masalah. Sebab sejatinya pertolongan hanya dari Allah. Dan adakalanya Allah datangkan masalah bukan karena ingin menyakiti. Taoi ingin memperbaiki dan menguji.

Bisa juga kita sebelumnya kita hanya menjadikan dakwah sebagai penyaluran. Banyak waktu lowong, suka berorganisasi, suka besosialisasi. Yah sekedar menyalurkan apa yang kita punya dan kita suka. Saat sudah tak punya (waktu) dan suka berganti duka, maka semangat pun sirna. Segeralah muhasabah, bahwa dakwah bukan pilihan tapi kewajiban. Apapun dan bagaimanapun kondisinya, dakwah harus tetap jalan jika tak ingin di akhirat diperkarakan.

Kedua, jika tujuan awal telah benar, tapi semangat tetap melar maka saatnya refresh pemahaman. Bisa jadi dengan mereka ulang adegan awal kita bertemu dan berkiprah dalam dakwah. Coba ingat kembali ayat-ayat mana tentang dakwah yang paling melecut diri kita di masa lalu. Barangkali ada nasihat atau buku bacaan yang punya kenangan spesial dalam menginspirasi hijrah dan dakwah kita tempo dulu. Dapati kembali semua itu.

Buka kembali kitab-kitab kajian kita. Bisa jadi banyaknya masalah membuat kita terlupa. Padahal di sana terpampang nyata, bahwa sebagai hamba kota harus senantiasa sami'na waatho'na. Dan amal dakwah adalah salah satu perintah-Nya. Banyak kemuliaan yang dijanjikan bagi pelakunya. Murka dan siksa bagi pelalainya.

Ketiga, ini salah satu nasehat paling berkesan buat saya. "Jika sedang turun pergilah ke atas. Jika sedang naik pergilah ke bawah." Artinya jika sedang futur temuilah orang yang semangatnya sedang tinggi.

Sebaliknya jika kita sedang semangat temuilah mereka yang sedang futur. Karena semangat itu menular. Bahaya keras jika kita sedang futur lalu menemui sesama futur. Bisa jadi akan sama-sama pamit mundur.

Keempat, banyak-banyaklah memerhatikan kondisi umat. Betapa saudara kita di berbagai belahan dunia tiap hari tersiksa. Saat kita enak-enak makan mereka kelaparan. Saat kita bisa menikmati indahnya kebersamaan dengan keluarga, mereka harus selalu siaga dari serangan tiba-tiba. Bahkan saat kita masih bisa tertawa, mereka sedang meringis menahan beratnya siksa dan pedihnya luka. Tak jarang bertaruh nyawa sekedar untuk bisa belajar dan menjalankan ibadah.

Jika kita berpikir bisa menolong mereka sekedar dengan mengirim dana, obat dan pakaian. Maka sadarilah kita hanya memperpanjang derita mereka. Kita obati lukanya namun kita biarkan para teroris kafir radikal itu kembali menyiksa mereka. Lalu kita obati lagi, disiksa lagi, dst. Betapa zalimnya kita.

Akan tiba masanya mereka kan bertanya pada Tuhannya. Kemana muslim lainnya. Kita. Dan saat itu hanya amal dakwah yang bisa kita jadikan hujjah. Bahwa dengan itulah kita sedang berusaha menolong mereka. Dakwah mengembalikan hadirnya junnah. Sebuah negara yang tegak lurus di atas agama Allah. Khilafah Islamiyah lah yang akan mampu melindungi seluruh umat manusia.

Kelima, buka siroh perjuangan Nabi dan para sahabat. Adakalanya semangat melemah karena merasakan betapa besar masalah yang dihadapi. "Nyaman ai beucap kada marasaakan pang, jaka tahu marasa tu." Lalu merasa legal untuk melemah dalam dakwah.

Maka sungguh manusia yang paling berat ujian dan masalahnya adalah para Nabi dan Rasul, kemudian para sahabat Nabi, lalu orang-orang solih yang mengikuti jalan mereka. Maka saat menjejaki sirah mereka, kita kan sadar bahwa ujian kita belumlah seberapa dibanding mereka. Sekaligus akan berbangga dengan masalah yang dipunya. Sebab itu pertanda kita sedang menempuh jalan yang sama dengan mereka. Sunatullah. Pengemban dakwah pasti diuji dengan berbagai masalah.

Keenam, ingat-ingat nasib kita di akhirat. Bahwa hanya ada dua tempat kembali. Syurga dan Neraka. Tak ada ruang moderat di sana.

Dakwah adalah sebuah kewajiban. Meninggalkannya sudah pasti berdosa. Seringan-ringannya siksa neraka adalah dipakaikan terompah dari api lalu mendidihlah otak kita. Panasnya dunia saja kita tak kuasa. Kadang saat lampu mati, tak ada kipas angin dan AC saja kita sudah merasa tersiksa. Apalagi di Neraka. Bahi yang merasa sanggup, berhentilah berdakwah. Sebab dakwah itu memang tidak mudah. Namun yakinlah, di neraka jauh lebih susah.

Ketujuh, perbanyak taqorub ilallah. Ingatlah bahwa kita adalah hamba Allah yang tak pernah salah dalam menitahkan amanah. Adakalanya kita merasa bisa berbuat karena hasil usaha kita semata. Padahal jangankan tuk jalankan dakwah di zaman penuh fitnah. Ingin menjadi agen pengubah. Bahkan tuk sekedar mengedipkan mata saja kita tak akan bisa tanpa pertolongan-Nya.

Jiwa, raga dan hati kita ada dalam genggaman-Nya. Memohonlah istiqomah pada-Nya. Perbanyak ibadah, perbagus muamalah dengan senantiasa terikat pada syariah. Insyaallah semangat dakwah kan terus merekah.

Semoga tips alakadarnya ini berguna. Terutama untuk pengingat diri penulis.

Oleh: Umi Diwanti

Posting Komentar

My Instagram

Designed By OddThemes | Distributed By Blogger Templates