Agar Gawai Tak Bikin Lalai


Hari gini siapa yang tak kenal gawai? Hampir semua memanfaatkannya. Dari balita sampai lansia akrab dengan teknologi ini. Tak dipungkiri banyak hal bermanfaat bisa diperoleh dari penggunaannya. Seperti membaca artikel berisi pengetahuan, mendengarkan kajian para ustadz/ustadzah. Bahkan bisa belajar masak dan mencari tips-tips menjadi pendidik yang baik darinya.

Namun, ibarat pisau bermata dua. Penggunaan gawai tak jarang membuat lalai. Anak-anak jadi malas belajar. Tak tahu cara berinteraksi dengan dunia nyata. Bahkan jika kurang pengawasan, anak rawan terpapar konten berbahaya. Pun demikian orangtua yang harusnya mengawasi kadang sibuk sendiri.

Seringkali orangtua yang sudah sakau gawai bahkan kesal saat gawainya dipinjam sang anak. Akhirnya anak dibelikan gawai sendiri. Jadilah keluarga yang dekat di mata jauh di hati. Mereka saling asik dengan gawai pribadi.

Lalu bagaimana? Haruskah membuang gawai dan kembali ke zaman purba. Tentu saja tidak. Namun harus bijak dalam memanfaatkannya.

Dalam Islam memanfaatkan teknologi sah-sah saja. Bahkan para ulama zaman dulu berlomba menemukan peralatan canggih guna mempermudah melaksanakan berbagai kewajiban sebagai manusia. Nah demikian dengan gawai, silakan dipakai asal jangan sampai lalai. Diantaranya bisa kita tempuh cara berikut.

/Selektif Menginstal Aplikasi/

Tak perlu semua aplikasi dimiliki. Cukup instal yang diperlukan. Instal aplikasi sosmed yang diperlukan saja. Untuk sarana mendapatkan info terkini tentang kondisi kaum muslimin, menjalin komunikasi dengan keluarga dan kerabat, dan wasilah mendapatkan ilmu dan menyampaikannya kembali. Adapun game, sebaiknya tidak ada apapun jenisnya. Karena jika sudah punya, bisa saja kita tergoda. Jelas buang-buang waktu saja.

/Batasi Grup Sosial Media yang Diikuti/

Setelah membatasi aplikasi maka batasi pula grup yang diikuti. Cari yang benar-benar diperlukan semisal grup sekolah anak yang berisi info terkait sekolah. Grup belajar online yang kita benar-benar komitmen belajar di sana. Jangan sekedar jadi tim penggembira apalagi tim heboh sementara tak rajin mengerjakan tugas-tugasnya. Hanya buang waktu tanpa dapat apapun.

Selebihnya adalah grup keluarga dan grup lain yang di dalamnya bisa untuk menyebarkan kebaikan. Jika bukan untuk keperluan info penting, ilmu dan dakwah maka keluar dengan cara baik-baik itu lebih baik. Sedikit banyak, waktu interaksi dengan gawai berbanding lurus dengan jumlah aplikasi dan grup yang dihuni.

/Managemen Waktu Interaksi/

Seringkali waktu tak terasa berlalu. Niatnya mau lihat-lihat sebentar saja, ternyata banyak yang menyapa. Jadilah lama. Eh tahu-tahu banyak pekerjaan tertunda. Hidup jadi tidak teratur. Parahnya kalau yang tertunda adalah kewajiban. Jelas akan merugikan.

Untuk itu perlu membuat jadwal. Misal, pegang gawai hanya boleh setelah rumah dan sarapan beres. Berselancar di dumay jika shalat dhuha dan tilawah Alquran sudah kelar. Dengan demikian semakin besar keinginan menikmati gawai semakin lekas dan banyak amal yang kita lakukan.

Hanya saja sesekali tetap tengok isi grup penting, seperti grup sekolah anak. Siapa tahu ada info libur mendadak atau pergantian jadwal pemakaian seragam. Direspon seperlunya.

Batasi pula menyentuh gawai saat anak dan suami sedang ingin bercengkrama dengan kita. Jikapun ada yang penting maka seperlunya saja. Ini juga efektif untuk meningkatkan wibawa kita saat melarang anak bermain gawai.

Kalau ada amanah yang harus segera diselesaikan dan itu memerlukan gawai. Maka komunikasikanlah pada anak atau pasangan bahwa ada kewajiban yang harus kita selesaikan. Mintalah izin dan sebaiknya penuhi dulu keperluan mereka. Sampaikan pula apa keperluan  kita tersebut. Jangan lupa minta doa mereka agar kita bisa lancar dan segera menyelesaikannya. Insya Allah kondisi ini bisa dipahami anak dan suami/istri.

Bagi yang menggunakan gawai untuk jualan online, tetapkan jam pelayanan. Sampaikan pada konsumen. Agar mereka yang tidak dilayani di luar jam yang seharusnya tak kecewa. Dan kita pun tetap bisa mengatur ritme berinteraksi dengan gawai.

/Memahami Skala Prioritas/

Untuk bisa melakukan tiga hal di atas tentu saja kita harus memiliki pemahaman skala prioritas amal. Mana yang wajib yang waktunya terbatas, nomor satu dilakukan. Mana yang wajib waktunya panjang. Disusul mana yang sunah dan mana yang mubah. Hingga tak salah dalam memilih aplikasi, grup yang diikuti dan jadwal yang harus ditepati. Untuk ini kita harus rajin mengkaji Islam terus menerus.

/Temukan Alarm Hidup/

"Sudah sholat? Sudah Adzan lo dari tadi." Suatu hari ibu saya menyapa saya yang sedang asik bersama gawai. Sontak saya merasa tertampar dan bersegera mengambil air wudhu. Alhamdulillah berkat ada yang menegur shalat jadi tak terlalu terlambat.

Yah, walau bagaimanapun hebatnya kita mengelola diri, adakalanya khilaf menggelayuti. Kita perlu oranglain untuk mengingatkan. Entah mereka adalah anak, pasangan, saudara, orangtua atau teman.

Jangan marah jika ada yang suka menegur kita, sungguh itu karunia. Berterimakasihlah! Bagi yang belum mendapati, maka carilah. Sampaikan pada orang terdekat untuk mereka berkenan menjadi alarm hidup bagi kita.

Demikianlah, saat lingkungan kita belumlah terbentuk dari aturan yang Islami, maka masing-masing kita harus sekuat tenaga menjaga diri.

Semoga tips yang ada ini bisa membantu mengurangi lalai kita akibat gawai. Sembari terus berjuang mengembalikan Islam sebagai pengatur kehidupan. Hingga suatu hari nanti penjagaan diri tak hanya dilakuakan sendiri tapi juga oleh penguasa negeri dengan berbagai kebijakannya. Pastinya akan sangat efektif mencegah umat manusia dari berbagai kelalaian. Semoga tak lama lagi.

Oleh: Umi Diwanti

Posting Komentar

My Instagram

Designed By OddThemes | Distributed By Blogger Templates