Minggu, 03 Maret 2019

Tips Agar Tidak Sering Marah-marah pada Anak

Ini adalah salah satu pertanyaan yang sering bergelayut di hati para Bunda. Pastinya, karena merekalah yang paling sering berinteraksi dengan anak.


"Bagaimana ya biar saya gak suka marah-marah sama anak? Saya ini orangnya galak."


Bunda, sebelumnya kita harus paham bahwa rasa marah itu adalah fitrah. Ia merupakan penampakan dari gharizah baqo' atau naluri mempertahankan diri. Allah titipkan rasa itu pada setiap manusia normal. So, jika kita bisa marah berarti kita normal ya Bund. Hee

Dengan demikian rasa marah tidak mungkin dihilangkan. Ibarat air mengalir, menahannya hanya akan membuatnya meluap suatu saat nanti. Yang harus bisa kita lakukan adalah, sbb:

1) Mengalirkan marah pada tempat yang tepat. Karenanya Islam tidak melarang marah tapi mewajibkan kita mengelolanya. Marah lah semata karena Allah.

Ada perkara yang kita boleh marah, bahkan harus marah. Mislnya saja saat ada orang yang menista agama, maka wajib marah jika masih ada iman di dada kita.

Demikian pula pada anak. Kita boleh marah pada saat mereka melanggar hukum-hukum Allah di usia mumayyiz apalagi baligh. Sementara di luar itu, harusnya kita tidak perlu marah.

Untuk itu berarti kita harus tahu mana sikap anak yang melanggar mana yang tidak. Menuntut ilmu Islam secara mendalam dan berkesinambungan adalah jalan satu-satunya. Jika tidak, maka penempatan marah kita senantiasa salah kaprah. Dan ini akan dihisab Allah.

2) Mengelola ekspresi marah. Setelah tahu mana yang boleh marah, bukan berarti kita bebas melampiaskannya. Jangan sampai kita jewer, pukul atau caci maki anak sekehendak kita.

Pada anak yang sudah mumayyiz, yang sudah bisa membedakan salah benar, kita bisa mulai membuat perjanjian-perjanjian. Jika mereka melanggar maka kita beri sanksi sesuai perjanjian. Sehingga kita tidak harus marah-marah saat mereka melakukan kesalahan.

Sanksinya bisa berupa dikuranginya kesenangan mereka. Misalnya waktu bermain atau uang jajan. Bisa juga dengan pemberian tugas rumah seperti membersihkan kamar mandi. Jadi sekalian ajang mengajarkan mereka pekerjaan rumah.

Jika pun harus dipukul maka yang terdapat dalam syariat Islam adalah pada anak berusia 10 tahun. Itu pun hanya jika mereka tidak mau sholat. Dengan pukulan yang tidak membahayakan. Pukul di anggota badan yang aman. Hanya memakai tangan dan ketiak tidak boleh terbuka.


مُرُوا أَوْلادَكُمْ بِالصَّلاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ ، وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ  (وصححه الألباني في "الإرواء"، رقم 247)

"Perintahkan anak-anak kalian untuk melakukan shalat saat usia mereka tujuh tahun, dan pukullah mereka saat usia sepuluh tahun. Dan pisahkan tempat tidur mereka." (HR. Abu Daud dan Ahmad)

3) Saat marah hindari celaan atau sumpah serapah pada anak. Kita harus ingat bahwa ucapan orangtua sangat berbisa. Semarah apapun ucapkanlah kalimat kebaikan. Karena jika Allah ijabah, kita jua lah yang menanggungnya.

4) Jika tidak mampu menata kata, lebih baik diam. Agar bisa diam, kadang kita perlu menjauh dari anak yang membuat kita marah. Dalam hal ini sangat diperlukan kerjasama dengan pasangan. Kedua belah pihak harus saling paham, jika pasangan sedang emosi, segera ambil alih penanganan anak.

Namun satu hal yang pantang dilakukan. Jangan sekali-kali menegur pasangan yang sedang marah di depan anak. Ini akan meruntuhkan wibawa pasangan di hadapan anak. Padahal itu adalah modal anak bisa taat pada orangtuanya. Bahkan bisa jadi anak akan berani melawan karena merasa dapat pembelaan.

Simak juga beberapa tehnik praktis Cara Meredam Emosi Jiwa Pada Ananda.


5) Membuat catatan kebaikan anak juga akan membantu mengurangi emosi kita. Kadang kita suka marah pada anak karena tidak mampu lagi melihat kebaikan anak. Seolah mereka selalu salah. Seolah, ulah anak kita lah yang paling parah sedunia.

Mungkin mereka sering merusak barang di rumah. Mereka pun tak sepintar anak lain. Tapi anak kita adalah anak yang tak pernah dendam meski kita sering memarahinya. Bahkan mungkin kita pernah menyakitinya. Mereka selalu memberikan senyum tulus dan pelukan hangat untuk kita.

Mereka lah yang selama ini membantu kita menutup pintu, saat tangan kita penuh bawaan barang. Menolong beli garam di warung meski dengan imbalan permen. Tapi bukan kah itu sangat meringankan? Dibanding kita harus memasang hijab sempurna lalu meninggalkan masakan kita hanya untuk membeli sebungkus garam?

6) Bunda sering-seringlah menatap wajah mereka di kala mereka terlelap. Lihat wajah polos mereka yang tanpa dosa. Kita lah yang penuh dosa dalam mendidik mereka.

Ingatlah kelucuan-kelucuan mereka hari ini. Bahwa kehadiran mereka lah yang membuat kita menyandang gelar ayah atau bunda. Yang sebagian teman kita sangat merindukan status itu. Tapi Allah belum karuniai. Bersyukrlah, kita telah memiliki mereka. 😘

7) Sangat penting upaya antisipasi. Agar amarah yang salah tidak terulang lagi. Inventarisir penyebab marah kita. Apa kiranya kejadian yang kita alami dan rasakan sebelum marah. Bisa jadi lelah, ada pikiran atau ada beban lain. Catat dan selesaikan secepatnya.

Misalnya saja, kita marah-marah karena sebelumnya ada masalah dengan pasangan. Maka jangan biarkan masalah ini berlarut. Segera bicarakan dengan pasangan sampai kita merasa plong. Jika tidak, anak akan terus-terusan jadi pelampiasan.

Intinya, teruslah belajar dan berusaha untuk menjadi lebih baik dari hari ke hari. Juga senantiasa memohon ampun pada Allah dan meminta pada-Nya agar dimampukan menjadi orangtua terbaik. Pencetak generasi terbaik masa depan.

Demikian lah yang bisa saya sharingkan. Panjang, tapi semoga banyak dagingnya yang bisa dinikmati. Jika ada yang punya tips lain silakan tambahkan di komen. Semoga bermanfaat.

=Umi Diwanti=


Baca juga:







Tidak ada komentar:

Posting Komentar