The Power of Jomblower for Dakwah



Banyak hal yang ingin disampaikan terkait ini tapi entah kenapa tetiba jari meragu. Otak dan jari enggan berpadu. Isi kepala bertalu-talu tapi jari ini malu-malu. Apa kiranya untaian kata yang tepat untuk menyampaikan pada ukhti sekalian yang masih bersendirian. Bahwa posisi antunna semua hakikatnya adalah modal besar memberikan yang terbaik untuk dakwah.

Bayangkan saja, saat ini ukhti hanya mencuci baju sendiri, memasak buat sendiri (itu pun kalau gak beli jadi), kemana-mana gak perlu banyak bawaan dan tak perlu waktu lama buat persiapan. Dari segi tenaga, waktu dan pikiran jelas lebih irit dari para emak.

Inilah potensi besar para jomblo untuk dakwah. Bisa lebih banyak menghadiri berbagai majelis ilmu. Selain yang wajib, ilmu penunjang pun harus digetoli. Juga lebih berpeluang mendatangi banyak orang untuk silah ukhuwah dan dakwah. Toh jika setelahnya capek, capeknya cuma sendiri. Pulang ke rumah pun bisa langsung selonjoran atau malah tiduran.

Jangan harap itu bisa dinikmati lagi saat sudah tak sendiri. Yang ada, pulang anak sudah rewel karena sudah capek diajak ngider. Belum lagi persiapan makan orang rumah dan bebenah rumah. Jadi nikmatilah kesendirian ini dengan dipenuhi agenda dakwah.

Saat masih jomblo ini pula kesempatan bisa menikmati bangun di sepertiga malam dengan syahdu. Bisa langsung wudhu, sholat bisa sebanyaknya, lanjut ngaji sepuasnya. Paling-paling yang perlu dilawan hanya mata yang sepet, kepala yang mungkin sedikit puyeng atau mungkin godaan bantal empuk yang menawan.

Wahai ukhtiku sayang, inilah kesempatan terindah bermesraan dengan Tuhanmu. Jika nanti sudah dobel, triple atau malah sudah jadi kesebalasan sepakbola. Tak mudah untuk mendapatakan masa itu kembali.

Saat ambil air wudhu si bayi sudah ngoek. Mau tak mau dinen*ni dulu. Nah saat itulah si bayi belum tidur, si emak sudah pulas duluan. Whudu pun batal, tak jarang sholatnya pun batal. Karena tiba-tiba sudah adzan. Maklum sepanjang siang tak sempat istirahat.

Mau bercumbu dengan Alquran pun terpaksa dipending. Ada cucian piring dan pakaian yang sudah berteriak minta dibelai. Ada suami yang harus disediakan sarapan dan pakaian rapi untuk bekerja.

Jika pun sempat tadarus, tak bisa seanteng saat sendiri. Jadi gunakan malam harimu untuk sebanyak-banyaknya taqarub dengan ibadah nafilah. Mumpung masih mudah. Insya Allah akan mengundang pertolongan Allah untuk dakwah.

"Tapi kan Kak, saya kerja/ sekolah/ kuliah. Jadi waktunya habis, capek juga."

Yes, tapi harus diketahui bahwa semua itu tidak lebih sulit kondisinya dibanding telah berkeluarga nanti. Bagi yang sekolah dan kuliah, silakan simak di sini: Sekolah/Kuliah Menjadi itu Ladang Dakwah. Di sana sudah dibahas bagaimana memaksimalkan posisi sebagai pelajar dalam mengokohkan dakwah.

Bagi yang bekerja, coba dicek lagi apakah memang pekerjaan yang membuat kita tak bisa banyak berbuat lagi untuk ngaji dan dakwah. Atau kita yang belum maksimal memanajemen waktu dan tenaga juga peluang. Karena bisa jadi di tempat kerja justru ada peluang besar untuk dakwah. Why not?

Tapi jika memang benar pekerjaan yang membuat kita mati gaya. Saatnya dipertimbangkan. Kita sebernarnya sedang mencari apa?

Jika keridoan Allah yang utama dan dakwah adalah pilihan kita, maka sudah seharusnya pekerjaan harus menyesuaikan dakwah. Jika di tempat yang ada membuat kita lalai, saatnya dicerai. Cari yang baru. Itu pun jika memang bekerja saat ini menjadi urusan hidup dan mati.

Karena bekerja itu hanya mubah bukan sunah. Sedang dakwah itu wajib. Dan rezeki itu bukan dari pekerjaan tapi mutlak dari pemberian Allah. Maka berbuatlah sesuatu yang membuat kita dipandang layak oleh-Nya untuk diberi rezeki dari arah mana saja yang tak disangka-sangka.

يَٰأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ إِن تَنصُرُواْ ٱللَّهَ يَنصُركُم وَيُثَبِّت أَقدَامَكُم

“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (QS. Muhammad: 7).

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya”. (Ath-Thalaq/65: 3)

Satu hal lagi yang bisa melejitkan power jomblower adalah yakin sepenuhnya masalah jodoh. Tak perlu dipikirkan apalagi sampai bikin uring-uringan.  Some one, some where, is made for you. Percayalah. Tak ada yang lebih baik dalam menyongsong  jodoh selain berupaya memantaskan diri.

Memantaskan diri standarnya apa? Pandai memasak dan beberes rumah? Mahir mengurus bayi, atau apa? Simak di seri berikutnya. Soalnya ini sudah kepanjangan. Yang baca sudah mulai lelah apalagi yang nulis. Hee. See U...

=Umi Diwanti=

Baca juga: Agar Birul Walidain Kokohkan Dakwah

Posting Komentar

My Instagram

Designed By OddThemes | Distributed By Blogger Templates