Dakwah Itu Tugas Siapa?


Termasuk bagi saya, kata dakwah itu terlalu mewah. Ia hanya diperuntukkan pada orang-orang tertentu. Ustad, ustadzah, mubaligh, mubalighoh minimal orang yang ilmu agamanya bagus. Sedangkan saya? Jangankan dakwah, menyampaikan pada orang, buat diri sendiri saja serba kekurangan.

“Dakwah itu kan ceramah, khutbah dan memberi petuah. Di mesjid, majelis ta’lim, podium, di hadapan para jamaah. Jadi itu tidak bisa sembarang orang. Susah! Bukan jatah kita. Ada ulama yang menjadi pelakunya.“

Ternyata anggapan itu salah. Dakwah tak melulu ceramah. Tak kudu di depan jamaah. Tak selalu meriah. Tapi dakwah adalah menyeru pada kebenaran. Lewat apapun yang busa kita lakukan. Mengajak manusia pada ketaatan hanya pada Allah Swt.

Ah kalau begitu, maka siapa pun kita, pasti bisa berdakwah. Tidak menunggu jadi ulama dulu baru maju. Karena dakwah wajib bagi siapa saja.

“Tapi kan dakwah itu perlu ilmu? Apa yang mau disampaikan kalau kita sendiri belum tahu?"

Betul.  Dakwah perlu ilmu. Kalau belum punya ilmu, ya dicari. Jangan justru lari dari kewajiban. Kewajiban tidak akan hilang atau dihapuskan karena ketidak tahuan kita.

Seperti halnya shalat, jika sudah baligh, bisa atau . Apakah jadi tidak wajib karana saat baligh kita belum bisa shalat. Tidak kan?

Nah begitu pula dengan kewajiban dakwah, tetap wajib meski belum bisa. Maka yang harus dilakukan adalah belajar agar bisa. Mencari ilmu. Agar kewajiban dakwah kita bisa tertunaikan dengan baik. Bukan meninggalkannya dengan alasan belum mampu. Kareana, selain wajib, dakwah juga merupakan jalan kemuliaan.

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ
الْمُسْلِمِينَ

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (QS. Fushshilat: 33)

=Umi Diwanti =

Posting Komentar

My Instagram

Designed By OddThemes | Distributed By Blogger Templates