Tips Melepas Anak Remaja ke Luar Rumah di Zaman Penuh Fitnah


Saat mengisi acara parenting di Pleihari kemarin Ahad, 24 Februari 2019. Peserta diberi keaemoatan bertanya terkait materi. Karena terbatasnya waktu, hanya 3 pertanyaan yang bisa tersampaikan.

Seorang ibu yang memiliki anak remaja zaman sekarang pastinya sangat galau. Di sisi lain mereka harus di lepas ke luar rumah. Di sisi lain di luar sana banyak sekali ancaman kerusakan zaman yang siap menerkam anak-anak kita.

Terlontarlah pertanyaan berikut. "Bagaimana agar tidak was-was melepas anak kita yang remaja menuntut ilmu di luar (sekolah dan kuliah, misalnya) di era banyak kerusakan sekarang ini?"

Ibu-ibu antusias menyimak materi demi materi


Meski saya pribadi belum ada pengalaman langsung meriayah anak remaja. Karena anak saya paling besar baru kelas 4 SD. Tapi berdasar pengalaman para senior dan fakta yang terjadi. Kiranya hal berikut inilah yang bisa kita lalukan.

1) Saat anak menginjak remaja perlakukan seperti sahabat. Komunikasi dan sikap kita selayaknya sahabat. Bukan lagi perintah ini dan itu tapi memberikan pengarahan.

Tanyakan apa yang mereka rasa, apa yang mereka ingin, dan alasannya. Barulah kita unjuk pandangan kita, pun beserta alasannya.

2) Anak perempuan dekatkan dengan ayah, dan sebaliknya. Jangan sungkan chating dengan anak dengan bahasa penuh perhatian. Hatta sekedar menanyakan, "si cantik Papa sudah makan belum nih?"

Konon pernah ditanyakan kepada seorang remaja kenapa sih dia pacaran. "Kan jadi ada yang memperhatikan, ada yang nanyain sudah makan belum. Sama kalo ke mana-mana ada yang nganterin."

Bagi kita mungkin biasa, bahkan lebay. Tapi bagi anak remaja, itulah yang mereka inginkan. Pahami dan cukupi.

Hingga anak kita tak perlu lagi mencari perhatian dari luar. Jadilah lelaki yang mampu mencuri perhatian anak gadis anda. Jadilah wanita terindah di hadapan anak bujang anda.

Jika tidak, maka pencarian perhatian di luar bisa menghantarkan anak kita pada pergaulan bebas. Pacaran, TTM, RWB, atau apalah istilah lainnya. Yang pasti Islam melarang hubungan laki-laki dan wanita bukan mahrom tanpa adanya hajat syar'i. Dan aktivitas tersebut sangat berbahaya.

Penyerahan kenang-kenangan dari Yayasan Mutiara Umat

3) Ajak mereka mengkaji Islam lebih dalam bersama kita. Tunjukan bahwa kita tidak hanya meminta tapi juga mrlakukan yang sama. Agar tergambar dengan nyata bahwa agama satu-satunya penyelamat kita. Dan dengan agama pula kita bisa terus bersama hingga ke Syurga.

Hendaknya kajian Islam yang diikuti adalah yang bisa memberikan kerangka berfikir tentang hukum-hukum Allah. Ini sangat membantu anak memiliki filter dalam memilah pengaruh dunia luar yang semakin liar.

4) Pilihkan sekolah dan lingkungan yang kondusif. Ya, sebaik apapun perlakuan kita di rumah, tentu bukan jaminan 100% anak bakal baik. Bagaimana linkungan, baik sekolah dan rumah juga sangat menentukan.

5) Jadilah penjaga agama Allah. Maka Allah akam menjadi sebaik-baik penjaga untuk kita dan anak-anak kita. Itu janji Allah.

Menjaga agama Allah adalah dengan mengkajinya secara kontinyu dan komprehensif. Amalkan dan dakwahkan. Dakwah tidak melulu ceramah ya Bund. Setiap kita sampaikan kebenaran adalah dakwah. Lisan maupun tulisan.

6) Doa dan tawakkal. Insya Allah ananda kita senantiasa dalam lindungan-Nya. Aamiin.
Dua pertanyaan lain saya tuliskan terpisah.

=Umi Diwanti=

Baca juga:



Posting Komentar

My Instagram

Designed By OddThemes | Distributed By Blogger Templates