Surat Untuk Ananda Tercinta

Salam....

Lama tidak ada post di blog. Entah kenapa akhir-akhir ini aktivitas menulis menurun drastis. Tiap hari rasanya tiba-tiba malam, tiba-tiba pagi lagi, eh tahu-tahu sudah seminggu berlalu tanpa satu karya pun. Sedih sebenaranya tapi...

Ah akan banyak alasan yang bisa kita ungkapkan sebagai pembenaran. Namun hanya cukup satu alasan ketika kita ingin melakukannya. Bismillah, lillah.

jadi ceritanya kali ini ada tugas alias PR di grup Ngaji Literasi binaannya Mba Alga Biru. Biasa setiap pekan atau dwi pekan akan ada materi dari sesama anggota. Kali ini dibawakan oleh bu Bidan dermawan yang menawan. Bu Bidan ESA Mardiah. Beliau ini salah satu penulis idola saya. Andai dekat, mungkin juga akan jadi bidan idola saya. Xixii.. Materi yang beliau sampaikan sangat memukau.

"Menulis Surat Tuk Ungkap Perasaan Tersirat" 

Banyak hal yang yang beliau disampaikan sebagai prolog. Intinya menulis itu bisa jadi terapi anti stres ketika ada  masalah sekaligus bisa jadi solusi.

Misal lagi ada konflik sama pasangan, anak atau orangtua, maka dengan menuliskannya efeknya luar biasa. Pertama jadi plong, kedua bisa diedit-edit jadi bisa terhindar dari keterlanjuran berkata yang tidak pantas. 

Dan paling penting, sesuatu yang disampaikan dari hati insya Allah akan sampai ke hati. Banyak hal bisa terselesaikan dari komunikasi tertulis. Khususnya yang tak mampu terlisankan.

So, bersyukurlah jika saat ini kita telah jadi penulis. Yang belum, lakukanlah, pasti bisa. Karena inti dari menulis itu hanya menuangkan apa yang dirasa dan dipikirkan. Itu aja!

Biasa disetiap ujung materi selalu ada tugas. Gak kalah kayak anak-anak sekolah. Para emak pembelajar juga bayak PR. Kali ini PR nya adalah mengumpulkan tulisan surat yang ditujukan untuk orang dekat. Boleh suami, anak, orangtua, saudara kandung atau saudara seiman.

Nah, untuk tugas ini, saya mau setorkan tulisan surat untuk anak-anak saya. Bukan tulisan baru, tapi benar-benar dari hati. (Ciee :) Semoga suatu hari akan sampai ke hati mereka juga.

YUK SIMAK! 

**************************

SELEPAS TASMI, HARI ITU...


Menatap lisanmu pagi ini membuatku haru
Betapa kau telah berusaha menghafalkan kalimat itu satu persatu
Sesuatu yang tidak mudah namun juga tidaklah mustahil karena dia kalam Allah
Kau membuatku bangga, sekaligus menista diri

Betapa lebih baiknya dirimu dariku nak
Berharap lisanmu selalu basah dengan kalam Allah
Dengannya kau bisa menolong kami kelak di Syurganya
Terasa banyaknya dosa diri ini

Sering memarahimu padahal dari lisanmu kuharapkan syurga itu
Serasa hati berazam sendiri, ingin menghindari setiap emosi
Kupeluk ia yang penuh harap, kasih hadiah ya mi
Begitu sederhana pintamu

***
Namun tak berselang lama, entah kenapa ulah itu kembali terlintas dimata
Di telinga hingga membumbungkan emosi jiwa
Kucoba menahannya namun tak kuasa

Akhirnya bendungan emosi  itu pecah jua
Kembali kuingkari azam yang kesekian kali
Seperti diluar kendali dan ini satu-satunya yang kau patuhi

Nak, andai kau tau, saat ada amarah, yang paling terluka sesungguhnya adalah aku
Aku gagal berlaku sabar, ulahmu yang selalu mengumbar
Namun azam ini terus mengemuka, suatu saat aku bisa

Itulah selalu harapku pada diri yang lemah ini
Berharap diantara luka, meminta pada Yang Kuasa
Terus memikirkan cara, semoga ada, pasti ada

Satu hal, meski mungkin tak sempat azamku tertunaikan
Ketahuilah nak, sehebat apapun debat diantara kita berkelebat
Sekeras apapun laku dan suaraku
Sebesar apapun gusarku padamu
Tak akan melebihi cinta dan sayangku pada kalian

Meski kadang ancaman tercetuskan
Sebenarnya aku sedang kehabisan cara
Bagaimana agar kau mengerti apa yang kupinta
Maafkan kelemahanku, kekurang pandaianku menjadi ibu

Tapi sungguh akupun tak mau
Kuingin suatu hari nanti tak ada lagi kegaduhan
Yang ada kesyahduan antara ibu dan seorang perawan

Saling bercerita tentang indahnya dunia
Tentang amanah yang terbentang
Tentang negeri yang ada diseberang

Bahwa kita sama-sama berjuang
Membangun mimpi hakiki di JannahNya Ilahi
Aku, kalian dan kita semua
Abadi selamanya…

Teruntuk anak-anakku, khususon Kakak Ayesya dan Atiyya
Semoga tulisan ini bisa kalian mengerti, mungkin suatu hari nanti, entah Umi masih ada atau telah tiada. Sayangi Umi dan Abi dengan ketaatan kalian pada Ilahi Robbi.

Martapura, 03.05.2017 19:00

************************
Aslinya tulisan ini tersimpan di laptop, anak-anak belum ada yang baca. Lagian mereka sekarang masih kecil, mungkin nanti saat mereka sudah baligh adalah saat yang tepat memperlihatkannya. 

Sebenarnya juga mau share satu lagi surat buat Mama, tapi nanti kepanjangan. Kasian yang baca. Heee. See U...

@umi_diwanti

2 komentar :

My Instagram

Designed By OddThemes | Distributed By Blogger Templates