Senin, 17 Desember 2018

Rudapaksa Menggila, Ini Solusinya



Rudapaksa Kian Menggila
Oleh: Wati Umi Diwanti*

Rudapaksa itu sendiri sudah merupakan perbuatan asusila. Apalagi jika dilakukan pada darah daging sendiri. Ibarat pepatah, pagar makan tanaman. Seorang ayah harusnya melindungi, yang ini malah tega berbuat keji. Yang harusnya menjaga, malah memangsa.

Sedihnya lagi, rudapaksa pada anak sendiri ini bukanlah perkara baru dan bukan satu. Sudah ada sejak lama, semakin banyak dan  makin 'menggila'. Bagaimana tidak, R (41) merudapaksa anaknya sejak sang anak berusia  4 tahun. Demi menutupi aksi bejatnya sang anak  diancam segala rupa dan dipaksa minum pil KB. Alhasil kasus ini baru terungkap setelah anaknya berusia 18 tahun. (jawapos.com, 27/11/2108)

Ini baru halaman satu hasil pencarian di google dengan kata kunci 'perkosa anak kandung'


Secara alamiah, tiap manusia memang diberikan naluri seksual. Hanya saja Allah pun telah menetapkan pernikahan sebagai pemuasan halal. Bahkan menjadi ibadah jika dilakukan sesuai kaidah agama. Tapi mengapa para ayah ini sampai tega memangsa anaknya? Banyak hal penyebabnya, dan yang paling utama adalah ketidakpuasan kebutuhan seksual dari sang pasangan halal.

Sebagaimana kasus yang terjadi di Jalan Kesturi, Landasan Ulin ini, pelaku mengaku hasrat seksualnya sangat besar dan ia melakukan aksinya saat sang istri di luar rumah bekerja sebagai pembantu rumah tangga (PRT). Seandainya saja sang istri selalu ada untuknya, niscaya kejadian tragis ini dapat dihindari.

Sedemikian besarnya akibat masalah yang satu ini, sampai-sampai Rasulullah, yang setiap lisannya adalah wahyu dari Allah itu pernah bersabda. “… jika suaminya meminta dirinya (mengajaknya jima’) sementara ia sedang berada di atas pelana (yang dipasang di atas unta) maka ia harus memberikannya (tidak boleh menolak).”(HR. Ahmad 4/381)

Masih banyak hadis lainnya membicarakan masalah ini. Bahwa penolakan istri untuk memenuhi panggilan ranjang suami ini menuai murka dari Allah Swt. “Jika seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidurnya lalu si istri menolak untuk datang maka para malaikat akan melaknatnya sampai pagi” (HR. Al-Bukhari no. 5194 dan Muslim no. 3524)

Namun Islam tak hanya menuntut pada kaum hawa. Di sisi lain Islam membebaskan para istri dari tuntutan pemenuhan nafkah keluarg bahkan untuk dirinya sendiri. Beban mencari nafkah diletakkan di punggung suami. Tentu saja ditopang oleh aturan negara yang juga harus menyediakan lapangan kerja yang mumpuni untuk kebutuhan keluarga. Maka para istri senantiasa tak punya alasan untuk tidak bisa memberikan pelayanan maksimal pada suaminya. Rumah tangga akan berjalan sakinah dan penuh berkah.

Jauh berbeda dengan realita hidup saat ini. Sang tulang rusuk pun harus beralih fungsi sebagai tulang punggung. Pada Februari 2018 lalu Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan di negeri ini sudah mencapai 55,44 %. (http://www.turc.or.id/wp-content/uploads/2018/06/BPS_Berita-Resmi-Statsitik_Keadaan-Ketenagakerjaan-Indonesia-Februari-2018.pdf) Tentu saja sebagian besarnya adalah para istri.

Elizabeth McGrath seorang ahli terapi dan pendidik seks California, menjelaskan salah satu keengganan seorang istri melayani suami adalah karena kelelahan. Setelah sibuk di pekerjaan, mengantar sekolah, dan pernak-pernik urusan rumah tangga, sangat mungkin pasangan menjadi terlalu letih bahkan untuk berpikir tentang melakukan seks pun enggan (www.liputan6.com, 19/02/2016). Maka menjadi kewajaran kasus rudapaksa ini terus meningkat seiring meningkatnya jumlah angkatan kerja perempuan.

Ditambah semakin tipisnya ketakwaan individu. Termasuk pemahaman tentang batasan aurat dan pengaturan tempat tidur yang banyak tidak ditahui. Tak jarang masalah inilah yang jadi pemantik terjadinya rudapaksa oleh kalangan keluarga. Dalam Islam hanya suami istri yang tidak memiliki batasan aurat. Islam juga memerintahkan  orangtua untuk memisahkan tempat tidur anak.

Selain itu, semakin masifnya kebebasan bermedia menambah parah. Saat pemuasan halal tak mencukupi. Sementara pronografi dan pornoaksi kian membanjiri berbagai media saat ini. Wajarlah jika kasus rudapaksa ini kian menggila. Klimaksnya, sistem sanksi yang ada sama sekali tak membuat jera. Sebagaimana yang telah ditetapkan agama (Islam). Maka wajarlah jika pelaku rudapaksa ini tertangkap satu, tumbuh seribu.

Peliknya permasalahan yang melingkupi kasus rudapaksa ini memerlukan solusi dari berbagai sisi. Dan semua itu akan teratasi dengan mengembalikan seluruh aturan kehidupan ini pada pengaturan Allah Swt.

Aturan pergaulan dalam Islam akan menutup setiap celah terjadinya interaksi yang dilarang. Sistem pendidikannya mampu mewujudkan ketakwaan sebelum peserta didik mengenal ilmu lainnya. Sehingga jiwa-jiwa manusia diliputi rasa diawasi oleh Zat Yang Maha Melihat dan Maha Keras Balasannya. Menjadikan manusia sangat berhati-hati dalam setiap tindak tanduknya.

Di sisi lain, sistem ekonomi Islam mampu memberikan jaminan nafkah pada para perempuan dan anak-anak. Para istri bisa fokus melayani kebutuhan suami. Juga menciptakan kemampuan setiap keluarga untuk memiliki tempat tinggal yang ideal. Yang memungkinkan untuk memisahkan tempat tidur orangtua dan anak.yang sudah seharusnya dipisah.

Sebagai pamungkas, adalah penerapan sanksi sesuai ketetapan syariat Islam. Selain berfungsi sebagai penebus dosa bagi pelaku juga sangat efektif membuat siapapun berpikir seribu kali untuk mengulangi hal serupa. Yang pasti Allah berjanji akan memberi kebaikan yang besar apabila sanksi-sanksi yang Ia tetapkan diterapkan.

Dari Abu Zur’ah, dari Abu Hurairah, diriwayatkan bahwa Nabi saw. bersabda, “Satu hadd (hukuman) yang ditegakkan di muka bumi adalah lebih baik untuk manusia daripada mereka diguyur hujan tiga puluh atau empat puluh pagi.” (HR Ahmad) []


*Untuk media lokal Kalsel



Dimuat di SKH Kalimantan Post, Sabtu 22/12/2018

19 komentar:

  1. Aduh serem ya. Apalagi kalau lihat berita di televisi. Kayaknya banyak banget kasus rudapaksa.

    BalasHapus
  2. Aduh serem ya. Apalagi kalau lihat berita di televisi. Kayaknya banyak banget kasus rudapaksa.

    BalasHapus
  3. Kalau penerapan sanksi sesuai syariat Islam tidak dilaksanakan karena alasan Hak Asasi Manusia, saya jadi bertanya-tanya, mengapa si pelaku mati-matian dilindungi hak asasinya, padahal dia sendiri telah lebih dulu melanggar hak asasi orang lain ;(

    BalasHapus
  4. Eny miris sekali waktu dengan berita ini mna, daerahnya kan dekat nih dan gk nyangka Setega itu.. semoga kita bisa lebih hati2 lagi walaupun org terdekat.

    BalasHapus
  5. Miriisssnya aii mba melihat berita ini.. Miris kepada anaknyaaa, bisa bisanya sampai 18 tahun baru terungkap. . Sedihhhh g kuatt dengarnya ..anak yg harusnya tunbuh bahagia jadi seperti iNi ><

    BalasHapus
  6. Ada yg salah dg si bapak, ditambah dg sistem yg memisahkan antara aturan agama & kehidupan (sekularisme),lengkap dah derita si anak.

    BalasHapus
  7. Aku baru tau ada kejadian di landasan ulin ini. Ku sedih.. Semoga kita semua termasuk yang terhindar dari laknat Allah dan kejahatan manusia

    BalasHapus
  8. Aduh, sedihnya baca ini. Hiks. Dulu pernah jg kejadian hal serupa di daerah 'bla bla'. Klo it ayah tiri sih. Serem bgt. Smg dijauhkan dr hal2 demikian.

    BalasHapus
  9. Aku paling ngga tega denger berita yg kayak ginian. Ngebayangin kaya apa itu anak bertahun2 digituin sama bapaknya sendiri. Yg kaya gini nih aku dukung pelakunya dihukum mati aja. Biar ada efek jera.

    BalasHapus
  10. Miris banget kalau baca2 berita kaya gini mba,iya yg namanya kita kecapean itu biasanya salah satu alasan menolak.padahal gak
    Boleh yaa,yg penting saling mengerti juga kali ya mba..

    BalasHapus
  11. Aku ngeri dan miris membayangkannya Mba. 4 tahun itu masih kecil banget. :(
    Dunia dan isinya memang makin hari semakin gila, hal semacam ini harus jadi bahan introspeksi kita baik istri atau pemerintah ya supaya bisa menegakkan hukum dengan adil.

    BalasHapus
  12. Mbak, akj ngeri sekali.
    Umur 4 tahun dipaksa sama ayahnya pula.
    Kok sedih ya, apa yg dipikirin sampai kaya gitu, ngeriii :(

    BalasHapus
  13. Wah aku baru tau istilah rudapaksa nih,makasih ya mbak infohnyaaa.

    Iya aku sedih banget sih denger perbuatan asusila gini, kok bisa ya sampai hati gitu. Hiks

    BalasHapus
  14. Setiap aku membaca tulisan-tulisan di blog mbak, aku perlu konsentrasi yang lebih tinggi. Hehe.. boleh dong aku nanya latar belakangnya mbak? Hehe.. jadi kepo.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyakah Nisa? Berarti sy blm bisa jadi penulis yang baik lah, msh susah dipahami kah tulisannya? Kurang ngalir ya?

      Btw latar belakang apa nih yang di maksud? Hee

      Hapus
  15. Iya ih, aku kesal kalau liat berita ini dimana-dimana apalagi kalau org tua sendiri gt, langsung mangap. Kenapa coba tega banget begitu kan. Setuju sih sama hukuman yg sesuai syariat islam gt.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya am gerigitan bnr, hilang hati nuraninya sbg manusia apalagi sbg orangtua.

      Hapus
  16. Jika sesuai syariat islam semua kehidupan ini diterapkan pasti indah. Keadilan bersama islam, pasti mudah digunakan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Inggih, krn Islam itu mmg utk kemaslahatan manusia bahkan makhluk secara umum. Bukan cuma utk muslim.

      Hapus