Jumat, 14 Desember 2018

Ilmuan Muslim: Al Razi, Dokternya Para Dokter

gambar: panjimas.com



Ilmuan muslim satu ini, saat kecilnya hobi bermain kecapi dan tarik suara. Sampai-sampai ia sempat bercita-cita menjadi penyanyi. Sedang orangtuanya senantiasa mendidik dengan ilmu agama dan menginginkannya menjadi seorang ahli agama.

Hingga suatu hari ia mengenal ilmu kimia dan sangat tertarik pada ilmu ini. Mimpinya menjadi penyanyi pun berubah menjadi seorang pakar kimia. Dengan ketekunannya belajar dan melakukan berbagai uji coba. Akhirnya banyak larutan kimia yang bermanfaat untuk kehidupan manusia berhasil ia temukan.

Abu Bakar Muhammad bin Zakaria al-Razi yang akrab di Al Razi inilah yang menemukan penggunaan alkohol sebagai bahan fermentasi pertama kalinya. Dan menemukan larutan asam sulfur pertama kalinya di dunia.

Peneletian demi penelitian ia lakukan. Hingga suatu hari ia mengalami kecelakaan di laboratoriumnya yang menyebabkan matanya cacat. Cita-citanya sebagai pakar kimia pun pupus. Namun siapa sangka, kecacatan dan tekad kuatnya untuk menyembuhkan matanya justru mengantarkannya menjadi dokter hebat.

Sejak kecelakaan itu ia mulai mempelajari ilmu kedokteran dan mulai jatuh cinta kembali pada ilmu ini.  Meski usia tak muda dan fisik yang tak lagi sempurna, ia tetap optimis untuk menjadi seorang dokter. Ia pun pergi ke Baghdad, di Irak mencari para pakar ilmu medis dan berguru pada mereka.

Kala itu masa kejayaan Islam, Baghdad memang menjadi pusat ilmu pengetahuan. Banyak para ilmuan yang belajar dan mengajar di sana. Di Baghdad Al Razi berguru pada Humayun bin Ishaq. Ia juga menjadi murit At Tabari. Masih ingat kan? Sang dokter jenius penemu ensiklopedia kedokteran terlengkap yang sudah di ulas di tulisan sebelumnya.

Setelah menguasai ilmu kedokteran, Al Razi pulang kampung dan membuka praktek di Rayy, tanah kelahirannya. Ia membuka praktek dan tak disangka pasiennya sangat banyak. Tak lain karena  sifatnya yang baik dan ramah serta kecakapannya dalam mengobati dan mendiagnosa penyakit.

Wah, ini memang sosok dokter idaman ya. Cerdas, diagnosanya jitu, orangnya ramah. Bisa-bisa baru ketemu dan ngobrol aja pasien sudah pada sembuh. Hihihii..

Selain itu ia juga murah hati dan tidak menarik biaya pengobatan yang tinggi. Karena kecerdasan dan kebaikannya itu kemudian ia diangkat menjadi kepala rumah sakit kota Rayy. Namanya pun akhirnya terkenal seantero negeri muslim. Hingga khalifah pun mengenalnya dan memintanya untuk menjadi kepala rumah sakit di Baghdad.

Setelah usianya sepuh, Al Razi pulang ke Rayy untuk mengabdi di kota kelahirannya kembali. Ia kemudian menjadi guru yang memiliki banyak sekali murid. Para pemuda muslim yang tertarik ilmu kedokteran berbondong belajar padanya. Jadilah ia gurunya para dokter yang kemudian dijuluki, dokternya para dokter.


Selama menjadi dokter beliau banyak menemukan karya di dunia medis. Ia adalah penemu penyakit alergi yang disebut rhinitis.Ia juga menemukan imunologi yang dapat memberikan daya tahan tubuh agar tak mudah sakit.

Al Razi juga menulis sebuah buku tentang cacar dan campak yang kemudian menjadi rujukan terlengkap tentan pengobatan dua penyakit tersebut. Dan beliau pula yang menulis seluk beluk penyakit anak pertama di dunia. Masya Allah.

Dan lebih luar biasa lagi, ilmuan yang hidup di kurun waktu 251-313H (865-925M) juga sudah menemukan pembedahan saraf dan mata. Ya Allah, salut luar biasa, dengan mata yang cacat mampu terus berkarya untuk kehidupan manusia.

Dengan penemuan ini ia mampu mengobati sendiri matanya yang cacat. Namun tak disangka, Al Razi justru memilih membiarakan matanya bahkan di usianya yang semakin tua, kecacatannya bertambah parah hingga tak bisa melihat lagi.

Keputusan itu ia buat karena merasa sudah cukup melihat dunia. Ia lebih berharap menadapat pengganti mata di Syurga kelak. Masya Allah sungguh sangat luar biasa. Insya Allah beliau benar-benar akan mendapatkan kenikmatan dalam Syurganya kelak.

-Wati Umi Diwanti-
Sumber: Buku 36 Kisah Inspiratif Ilmuan Muslim by. Afriza Han, Percetakan Cerdas Interaktif.

Baca Juga:

9 komentar:

  1. Masya Allah aku suka loh mba dengan tulisan yg seperti ini,memang ya Allah itu punya maksud tersendiri dibalik ujian nya.coba semua dokter seperti beliau,mungkin aku pun tak takut periksa ke dokter karena kadang bukan jarum nya yg bikin takut tapi takut sakit hati dengar dokter ngomel apalagi kalau wajah nya aja sudah kurang ramah.hemphhh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama kayak Mbak Dina 👆. Aku juga takut ke dokter lebih karena dokternya galak dan ga ramah. Sudah sakit fisik, ditambah sakit hati pula, huhu

      Hapus
    2. Nah iya, sekarang itu selain takut menghadapi dokter galak juga was-was sama biayanya. Sakit fisik, sakit hati plus sakit di dompet. Bukannya sembuh busa tambah parah, kebanyakan yang dipikir.

      Tp knp dokter zaman now bgitu juga patut kita telusur sih. Krn mmg buaya mrk sekolah super mahal, dan gak ada jaminan negara buat kesejahteraan para dokter. Jd wajar jg sih mrk kejar setoran dan beban me tal juga jd susah senyum. Hee

      Hapus
  2. Subhanallah ya, ilmuan-ilmuan dgn keterbatasan fisik masih mau mengejar cita-citanya. Kalo anak sekarang bisa gitu juga gak ya

    BalasHapus
  3. Keren, Mbak. Teruskan sharingnya ttg ilmuwan2 muslim seperti Al-Razi ini Mbak, biar dunia tahu Islam juga memberi kontribusi yang banyak pd dunia.

    BalasHapus
  4. Uwouw.. Tyt beliau penemu pnyakit alergi rhinitis itu ya. Sbg salah satu pengidapnya sy applouse.. Hhee. Smg di masa depan byk dokter2 muslim yg mengikuti jejak beliau ya dlm akhlaknya kpd pasien. :)

    BalasHapus
  5. Aku taunya ilmuan muslim di bidang kedokteran itu ibnu sina aja. Hehehe. Cetek banget ilmuku. Btw, al-razi sama. Ibnu sina ini duluan mana kehadirannya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Duluan Al Razi Mba, selisihnya lebih 100 th. Al Razi kelahiran 251H, Ibnu Sina 370H.

      Hapus
  6. Wah, setiap tulisan mbak itu khas banget ya. Informatif dan edukatif serta berbau sejarah. Banyak banget hal yang aku nggak tahu sebelumnya termasuk informasi yang ada di artikel ini. Keep writing ya mbak!

    BalasHapus