Catatan Singkat Suamiku


“Ma, kok mata mama merah.” Pertanyaan ini yang paling aku takutkan. Sudah 3 hari ini aku menyembunyikan tumpahan air mataku dari Rara. Balitaku. Desember nanti genap 4 tahun usianya. Masih terlalu kecil baginya jika harus menanggung beban masalah kami.

“Emm, emm, masak sih sayang. Mana? Mata mama baik-baik saja.” Aku berusaha tersenyum ceria di hadapannya. “Itu Ma, coba Mama ke sini.” Dia menarik tangan saya menuju kamar. Sayapun mengikutinya agar dia senang. “Tu liat, beda kan sama mata Rara.” Sambil menunjuk wajahku yang ada di cermin meja riasku.

Balitaku memang cerdas, jika kami tak memahami bahasa verbalnya dia selalu ada akal membuat kami paham. Entah dengan mengambarkannya atau langsung membawa kami pada apa yang dia maksudkan.

Dia juga sangat perhatian padaku. Selalu bisa menangkap air mukaku dan tebakannya selalu benar. Persis ayahnya. Selama 7 tahun sudah kami menikah. Luar biasa perhatiannya padaku. Bahkan kadang kurasa terlalu berlebihan.

Namun di sisi lain aku merasa diuntungkan. Apalagi saat Rara masih bayi. Sepulang kerja aku kerap kecapean. Setiap habis magrib aku tertidur pulas.Tak sedikitpun dia komplain, dia tidak pernah mengganngu istirahatku kecuali mengingatkanku untuk salat isya. Setalah salat Isa akupun langsung tidur lagi. Kadang dia sempatkan membuatkanku teh setiap aku bangun malam.

 “Pasti kamu capek ya?” Hanya itu yang terlontar darinya. Akupun hanya bisa tersenyum sejenak lalu melanjutakan tidurku. Hingga esok pagi aku kembali tersibukan oleh persiapan berangkat kerja, mengantar anak ke rumah ibuku yang berjarak sekitar 1 km dari rumah kami. Setelah itu akupun kembali asik dengan urusan kantor.

Setiap jam istirahat siang dia selalu mengirim pesan. Mengajakku makan di luar. Kebetulan kantor kami hanya berjarak sekitar 500 meter. Kalau aku sedang tidak bisa karena kerjaan kantor menumpuk dialah yang mendatangiku. Membawakan makanan kesukaanku. “Jangan sampai telat makan lo, nanti sakit. Kan kasian Rara dan Ayahnya Kalau Mama sakit.” Candanya selalu berhasil membuat stresku hilang.

Tapi, semua itu tinggal kenangan. Betapapun kebaikannya padaku. Aku sungguh tak bisa memaafkan kesalahannya. Aku benar-benar syok. Hatiku tak lagi patah tapi hancur lebur menjadi debu. Aku kehilangan rasa. Hanya Rara yang masih tersisa di benakku. Apalagi setelah 3 hari ini dia sama sekali tidak pulang dan tidak pula memberi kabar.

“Kurang ajar kamu mas, tega-teganya menghianati aku dan Rara! Kupikir kamu beda dengan lelaki lain. Ternyata ibadahmu selama ini hanya topeng. Dasar buaya!” Aku sadar seumur hidupku itu adalah kata-kata terkasar yang pernah aku keluarkan. Akupun tak menyangka kalimat itu justru kuhunuskan pada orang yang selama ini kuanggap anugerah terindah dalam hidupku.

“Aku khilaf, aku minta maaf.” Dia memelas dan memelukku. Tapi aku muak bahkan jijik untuk bisa bersentuhan kulit lagi dengannya. Aku selalu terbayang bagaimana dia bersama perempuan lain. Saat dia mendekatiku lagi, akupun menjerit sekuat tenaga. Sontak dia kalang kabut. “Sudah Ma, nanti Rara bangun.”

Tapi aku sudah tidak perduli, aku ingin dia pergi. Entah kenapa lidah ini kelu untuk mengusirnya. Di sudut hati terdalam sebenarnya aku tak rela jika harus jauh darinya. Bayangan penghianatan dan kebaikannya silih berganti mendominasi pojok hati. Akhirnya aku memilih diam.

Esok paginya dia berangkat ke kantor seperti biasa. Aku pun demikian. Saat mengantar Rara ke rumah Mama, akupun tak berani sampai ke teras, takut mataku yang membengkak terlihat. Pasti mereka akan bertanya. Rara ku turunkan di depan pagar, ku suruh masuk sendiri. “Bilang nenek, mama buru-buru, gak bisa mampir dulu.” “Iya Ma, hati-hati di jalan.” Senyum Rara lah yang menguatkanku pagi itu bisa terus melaju hingga ke kantor.

Tak seperti biasa, siang itu tak ada WA darinya. Sore hari, jam biasa dia pulang, diapun belum datang. Aku sama sekali tak perduli. Aku merasa lebih nyaman. Malam semakin larut diapun belum datang. "Jangan-jangan dia pergi ke perempuan itu." Darah panasku semakin berdesir kencang. Tapi mustahil aku menyuruh dia pulang, itu sama saja aku mau memaafkannya.

Pikiranku berkecamuk antara takut kehilangan dan mengerikannya sebuah penghianatan. Aku pun melamun sambil menepuk-nepuk Rara sampai dia tertidur. Aku berusaha memejamkan mata tapi tidak bisa. Bayangan tentang sosok suami alim nan baik berubah jadi monster jahat yang menyakitkan.

Tanpa sadar airmataku terus mengalir. "Aku harus punya cara menghilangkan semua rasa ini.” Gumamku dalam hati. Aku pun bangun, menuju meja kerja di kamar kami. Biasanya suamikulah yang duduk di sana. Menyelesaikan pekerjaannya.

Aku tak mungkin menceritakan kejadian ini pada orangtuaku apalagi teman-temanku. Mereka hanya tahu kami adalah keluarga harmonis bahkan agamis. Hanya diary ini tempat paling aman berbagi kisah. Berharap setelahnya aku bisa tidur. Esok masih bisa menyungging senyum untuk Rara.

Kubuka halaman demi halaman. Semuanya kisah tentang kebahagiaan keluarga kecil kami. Hingga tibalah dihalaman terakhir. Sekitar 5 bulan lalu. Kisah tentang suamiku yang memintaku berhenti kerja. Aku keras tak mau berhenti. Aku ingin punya tabungan buat masa depan kami. Maklum gaji suamiku pas-pasan buat hidup kami sebulan. Wajar dong aku ingin punya pegangan masa depan.

“Yakin aja sama Allah, yang penting Mama gak capek. Jadi bisa maksimal mengurus Rara.” Bujuknya saat itu. Aku merasa Rara tetap terurus dengan baik kok, meski aku tetap kerja. Setelah itu dia pun tidak mengungkit lagi. Berarti sudah tidak masalah.

Entah kenapa, aku mulai merasa bersalah. Baru terpikir olehku, bisa jadi dialah yang ingin lebih kuurus. Rara hanya simbol. Makanya dia ingin aku di rumah saja. Andai aku penuhi keinginannya bisa jadi hal ini tidak terjadi. Tapi masak iya cuma gara-gara itu dia sampai tega menghianatiku?

Sambil terus membuka lembaran berikutnya. Loh, kok ini ada tulisan, perasaan aku tidak menulis lagi setelah kasus itu. Bukan tulisanku. Hanya satu paragraf, tertanggal 3 Oktober. Kemarin malam. Rupanya ini tulisan suamiku.

 “Rara maafkan ayah. Harusnya ayah belajar pada Rara. Rara selalu bisa mengungkapkan yang Rara mau. Tapi ayah? Ayah gak bisa. Ayah ingin Mama punya banyak waktu untuk ayah dan Rara. Tak tega jika lihat Mama capek. Dan Aku hanya lelaki biasa. Ya Rabb ampunkan aku yang khilaf.”

Airmataku pun tak tertahan membanjir, dadaku rasa dipukul-pukul. Hingga daguku pun bergetar tanpa bisa kukendalikan. Isak tangisku menggaung seisi kamar. Ternyata benar, akulah yang menjadi sebab masalah ini. “Harusnya kamu tegas Mas, katakan kalau kamu yang butuh aku, bukan Rara.” Seketika akupun ingat pada sebuah quote yang mampir di beranda FBku.

“Hanya istri yang tahu pedihnya, ketika nafkah lahir tak terpenuhi. Nafkah batin sih, santai. Hanya suami yang tahu pedihnya ketika nafkah batin tak terpenuhi. Nafkah lahir sih, santai.” (Kholda Naajiah)

Ya Allah, selama ini aku merasa baik-baik saja. Suamiku yang tak pernah komplain kukira dia berbeda dengan lelaki kebanyakan. Padahal bisa jadi sudah lama suamiku merasakan pedih akibat aku lalai mengurusinya. Rasa capek yang melanda sepulang kerja membuatku tidak bernafsu. Sifatnya yang terlalu lembut dan pengertian pun membuatku tak pernah menyadari kesalahan besarku ini.

Tiba-tiba aku tersentak, ingin meminta maaf padanya. Meski isi WA dari perempuan itu terus saja menghantuiku. Tapi jikapun benar, ada andilku pada kesalahan itu. Eh, siapa tahu hubungan mereka tidak sejauh itu.

Aku terlalu bodoh, tidak pernah memberinya kesempatan untuk menjelaskan cerita yang sebenarnya. Aku terlalu percaya ketakutan. Karena zaman sekarang, perselingkuhan itu seolah menjadi hal normal dan wajar sampai ke ’situ’.

Akhirnya kuputuskan mengirim WA pada suamiku. Memintanya pulang. Ternyata dia berada tidak jauh dari rumah. Dia menenangkan diri di rumah teman kantornya di komplek sebelah. Akupun tak sabar mau mendengar klarifikasinya atas cerita si perempuan itu. Aku berharap penghianatannya belum sejauh itu.

Ternyata benar, kisah suamiku berkenalan dengan perempuan itu tak lama setelah keributan kami tentang pekerjaanku. Akhirnya suamiku memilih berdamai dengan keadaan. Dia mulai menghibur diri dengan lebih intens bermedia sosial. Hingga terhubung kembali dengan beberapa kawan sekolahnya termasuk perempuan itu.

Semenjak kenal suamiku perempuan itu mulai berubah. Dari penampilan seronok jadi mulai menutup aurat. Di situ suami merasa lebh dihargai. Merasa bermakna karena bisa merubah seseorang menjadi lebih baik. Sedang aku, aku tak menuruti apa yang dia mau.

Hingga suatu hari saat suamiku dinas ke luar kota tempat Si Fulanah tinggal. Tentu saja itu kesempatan bagi mereka bertemu muka. Awalnya mereka ketemu di Kafe. Ngobrol masalah keluarga masing-masing.

Fulanah mengalami masalah dengan suaminya. Ia sedang masa idah. Saat suamiku akan pulang, fulanah memaksa ingin ketemu lagi. Bahkan kali ini dia memelas hingga akhinya suamiku yang tidak tega-an ini pun luluh.

Mereka janjian ketemu di loby. Lama tak datang, suamiku pun kembali ke kamar. Tak lama sampai di kamar tiba-tiba ada suara ketukan pintu. Ternyata perempuan itu. Berdiri dengan berlinang air mata.

"Maafkan aku terlambat, mantan suamiku tahu aku akan pergi dan dia memukuliku. Untung aku bisa melarikan diri.” sambil sesenggukan perempuan itu bercerita. Hingga akhirnya ia tak tega dan menyuruh perempuan itu masuk.

Singkat cerita, setelah lama menceritakan segala yang terjadi padanya si perempuan itu meminta izin ke kamar mandi. “Kejadiannya sungguh di luar rencana Ma, tiba-tiba perempuan itu keluar tanpa memakai jilbabnya lagi. Dan..”

“Tapi kalian tidak sampai melakukan itu kan Mas?” Sampai di situ aku mulai histeris. Harapanku bahwa suamiku masih suci mulai buyar. Suamiku pun menangis, dia memelukku erat. Hingga meluruhkan badannya ke lututku. Dia cium tanganku, lalu bersujud di kakiku. “Aku khilaf Ma, benar-benar khilaf."

Badanku lemas, tak kuasa lagi kakiku menahan tubuhku yang sebenarnya sudah sangat kurus memikirkan masalah ini. Akupun seperti linglung.

"Aku salah Ma. Entah kenapa aku merasa nayaman membalas setiap chat darinya, setiap malam saat Mama sudah terlelap. Padahal aku tahu dia perempuan ajnabi (bukan mahrom) yang harusnya kuhindari. Dan harusnya aku bisa terus terang padamu saat itu."

Semakin suamiku mengakui kesalahannya aku justru merasa semakin bersalah. Suamiku salah, itu pasti. Tapi aku lebih salah lagi. Aku ingat percis, kejadian sebelum suamiku ke luar kota aku dalam keadaan mengejar deadline kantor. Tiap malam selalu tepar, sama sekali tak pernah mengurusi keperluannya.

Aku tak menyangka darinya musibah itu melanda rumah tangga kami. Oh andai saja aku menuruti kemauannya, andai saja aku.. Ah semua sudah terlambat. Nasi sudah menjadi bubur. Yang bisa kulakukan hanyalah belajar menikmati bubur atau kubuang sekalian. Dunia serasa begitu sempit dan gelap. [Umi Diwanti]

***
NB.
*Sebagai istri kita harus lebih peka pada keinginan suami. Karena tak semuanya bisa menyampaikan keinginannya dengan baik. Di sisi lain naluri laki-laki memang dibuat berbeda dengan perempuan. Bantu mereka memelihara pandangan dengan menjadi sebaik-baik pandangan baginya.
*Sebagai suami, belajarlah berkomunikasi dengan baik. Berterus teranglah, sampaikan apa yang kau inginkan dengan jelas dan tegas. Namun satu hal, berbicaralah dengan istrimu dengan bahasa cinta niscaya mereka akan mengikuti apapun yang kau minta.

____________________________________________
Saran dan masukannya silakan di komen ya :)


Lainnya:
Suamiku Berubah
Aku Anak Siapa?
Maafkan Aku, Sahabat


23 komentar :

  1. Wow, cerpen yang menggugah. Cerminan kebanyakan rumahtangga saat ini yang diguncang prahara pemberdayaan wanita ala kapitalis

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mba,kapitalis dan materialis terbukti telah banyak meluluhlantakan rumah tangga.

      Hapus
  2. Mantap ka..

    Cuma qoute dr cikgu bagi keluarga poligami itu tidak berlaku...hihi....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Owh kytu lah. Apa bedanya? #Kepo am nah. Xixixii

      Hapus
  3. Masya Allah keren ceritanya. Jadi pembelajaran baru untuk saya yg baru membina rumah tangga.. hihihi. Syukron mbak..😊

    BalasHapus
  4. Jleb banget terutama buat saya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mba, buat penulis juga. Jadi pelajaran biar gak kejadian yang serupa. Naudzubillah

      Hapus
  5. Balasan
    1. Inggih ka. Dan fakta yang serupa ini kayaknya banyak terjadi saat ini.

      Hapus
  6. Yang berbahaya ternyata bukan hanya pelakor tapi sikap kita sebagai istri kepada suami. Cerpennya bagus Mbak, dalem dan tragis. Auto correct-nya mungkin bisa dinonaktifkan, saya agak terganggu dengan kata percis Mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Malasih masukannya Mba Rindang. Sdh sy edit. Bukan auto correct, memang typo. Xixii

      Utk kasus pelakor, sbnrx juga akan bisa diminimalisir dg memperbaiki hubungan suami istri.

      Kalau kebutuhan pasangan telah terpenuhi dengan baik tentunya tambah keimanan, insya Allah akan mengokohkan pertahanan rumah tangga.

      Hapus
  7. wah nisa terharu dengan ini cerpen. sekaligus jadi pelajaran buat kedepanya harus peka terhadap suami ya xixixi . karena kejahatan datang karena ada kesempatan ya kan mii .

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, paling kada kita adh berusaha semaksimalnya. Mudahan Allah menjagakan.

      Hapus
  8. Aku sebagai wanita yang cuek ku harus perhatian dengan suamiku nanti dan peka huhu
    Cerpennya bagus mbak, ku sedih bacanya huhu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bener, kita harus saling pengertian dan saling bantu biar saling terjaga.

      Hapus
  9. jadi ingat pepatah wanita itu diuji pas nggak ada harta sementara pria diuji ketika ada harta. cerpennya bagus, bisa jadi pembelajaran buat diri sendiri

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bujur banar. Mudahan kita sama2 bisa kuat menghadapi ujian.

      Hapus
  10. Penuhi hak suami atas; mata, perut dan kemaluannya, ulun ingat banar petuah ini. Dan seperti biasa ulun membaca kisah semacam ini langsung remuk redam, kaya baca novel Elena tuh, kaya ada yang menghujam

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mudahan kita bisa jadi istri yang baik dan suami kita juga dijadikan pasangan yang baik buat kita.

      Hapus

My Instagram

Designed By OddThemes | Distributed By Blogger Templates