Pelajaran Berharga Saat HP Rusak



Saat HP rusak maka beberapa urusan bakal terbengkalai. Hmm, pasti banyak yang ngedumel dan resah saat HP rusak. Jangankan rusak, sinyal lemot atau habis batarai aja sudah lumayan bikin kesal. Maklum zaman now, ketinggalan dompet masih lebih baik daripada ketinggalan HP. Bener apa betul? 

Apalagi jika harus kehilangan data-data didalamnya. Seperti kejadian yang menimpa saya. Di usia HP sudah tak lagi muda, dia sering merajuk jika saya titipi banyak aplikasi. Apalagi akhir-akhir baterainya pun mulai membuncit. Mungkin karena saya terlalu sering men-charge dalam keadaan diaktifkan bahkan sambil saya pakai ber-chat atau telepon ria.

Tiba juga dia mati total, awalnya saya bawa ke counter HP tempat saya awal membelinya. Menurut Abang tukang service-nya ada aplikasi yang terhapus sehingga semua data tidak bisa muncul. "Kalau gitu tolong dipasangkan aja." Setelah dicoba, ternyata tidak bisa juga. "Bu ini harus instal ulang dulu baru bisa dipasang lagi aplikasinya." 

Saya pun langsung setuju. Daripada harus beli lagi. Mau cari second opinion juga sudah gak keburu. Lagi pula bisa jadi solusinya sama saja. "Oke" jawab saya. Petugas pun beraksi. Tidak begitu lama, selesai. Alhamdulillah bisa dinyalakan lagi. 

"Maaf bu saya lupa memindahkan nomor kontaknya ke memori eksternal." Jadi? Semua nomor kontak hilang. Huwaaa, bagaimana ini?

Dengan kepasrahan tingkat tinggi saya pun pulang, masih ada sedikit rasa senang di pojok hati. Daripada harus keluar uang jutaan lagi buat beli baru. Biarlah, syukuri saja apa yang terjadi.

Tak lama setelahnya, entah kenapa tu HP rusak lagi. Ya ampun, di saat nomor kontak yang hilang sudah mulai saya temukan kembali. Baik lewat mencari di grup-grup yang ada, juga bertanya dengan rekan lain yang menyimpan nomor orang yang saya perlukan tersebut.

Kali ini saya curiga sama si baterai buncit lah biang keroknya. Sebelum diperbaiki, mau tidak mau baterai harus diganti. Daripada nanti rusak lagi. Na'asnya di counter HP asal saya beli tidak ada. Demi HP saya pun rela berkeliling kota. Untungnya saya naik matic. Bayangin kalau naik delman istimewa, kapan kelarnya? Ha haa. 

Akhirnya ketemu. Tidak disangka justru adanya di toko dekat rumah yang tidak pernah saya perhitungkan sebelumnya. Kebetulan toko HP-nya juga melayani sevice. Sekalian aja saya sevice di sana. Saya minta pokoknya harus segera selesai. Sore masuk, habis Isya selesai, langsung saya ambil. 

O iya siapa tau ada yang iPhone-nya bermasalah boleh ni dicoba hubungi Service iPhone Bisa konsul dan tanya-tanya via OL dulu. Gak harus keliling kota kayak saya. Wkwkwkkk. Kalau cuma ganti baterai aja bisa langsung ke Service Baterai iPhone cuma 30 menit. Kalau Lcd yang bermasalah bisa langsung di Service Lcd iPhone.

Btw, HP rusak ini beneran bikin nyesak kan ya? Soalnya, tanpanya dunia terasa hampa. Eaa. Gak salah kalau kita selalu bergegas mencari counter service terbaik. Eh tapi, tapi, tapi.. Ada lo yang kalau rusak efeknya lebih parah buat kita. Tapi kadang kita, (kita?) eh saya aja deh, suka kurang peka. Baik mendeteksi maupun memperbaikinya. Apa tuh?


“Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung)” (HR. Bukhari no. 52 dan Muslim no. 1599).

Jika rusaknya HP kita bisa langsung merasakannya. Tidak dengan hati. Biasanya yang bisa merasakannya justru orang lain di sekitar kita. Namun seringnya mereka enggan menyampaikan ke kita.

Khawatir merusak hubungan yang ada. Bisa jadi mereka lebih memilih berdamai dengan hatinya "ah memang sudah sifatnya begitu". Padahal kalau ciri-ciri kerusakan hati itu tak segera diperbaiki bisa berlanjut pada kerusakan yang lebih akut.

Mislanya aja kita mungkin tidak sadar suka bicara 'tinggi', atau suka membully teman sendiri. Jika dibiarkan, sedikit demi sedikit rasa empati kita akan sirna tak bersisa. Jadilah kita egois tak peduli ada hati lain yang terluka, ada perasaan yang terabaikan.

So untuk masalah hati ini, baiknya kitalah yang meminta orang lain menilai kita. Dari informasi itu bisa jadi akan terdeteksi ada gejala hati kita terpapar virus atau ada yang korslet. Yang paling mudah adalah bertanyalah pada suami dan anak-anak.  Bagi yang jomblo bisalah tanyakan pada teman akrab atau sahabat dekat, "apa yang mereka rasakan saat dekat dengan kita".

Siapkan hati seluas samudera untuk menerima setiap ungkapan kejujuran yang mereka tuturkan. Jangan sampai justru merusak hubungan. Sebab mereka itu ibarat dokter, makin jujur makin paten diagnosanya. Ibarat ahli elektronik yang mendiagnosa HP kita. Mereka bahkan tak dibayar. Maka pastikan minimal ada ucapan terima kasih tulus dari kita. Bolehlah sesekali sambil di traktir makan-makan. Hmm, pasti suasana akan lebih cair tuh.

Selanjutnya, segera lalukan perbaikan. Bisa jadi dengan lebih banyak mengaji dan berdzikir, lebih banyak duduk di majelis ilmu, lebih rutin sholat malam. Atau mungkin harus menata ulang pola hidup dan pergaulan kita. Sebab salah satu 'Tombo Ati' kata Bang Opik adalah berteman dengan orang-orang solih. Yup, betul sekali sebab itu diambil dari perkataan Muhammad Saw.


“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR Bukhari 5534 dan Muslim 2628)

Misalnya aja kita sering merasa harta adalah segalanya. Hidup bersama para pencari harta akanbuat kita semakin 'harta orientied'. Beda kalau kita lebih sering bersama orang solih. Oang-orang yang mendedikasikan diri semata mencari ridho Allah. Harta hanya bonus. Bukan tujuan hidup. Dengan berada di sekitar mereka rasanya kita gak bakal punya muka untuk membicarakan harta. Lambat laun kita akan akan terbawa. Menikmati hidup dengan bersahaja.

Jika masalahnya malas ibadah bisa jadi karena kita tidak tahu kenapa kita harus beribadah. Bisa jadi rajin-rajin pergi ke majelis ilmu adalah solusi jitu. Banyak tahu akan membuat kita paham dan menginsyafi siapa diri ini. Ibadah adalah keperluan diri. 

Sayangnya kita, (saya maksunya) dalam memperbaiki hati seringnya tak sesegera memperbaiki HP yang rusak. Padahal ia adalah alat komunikasi satu-satunya pada Sang Illahi Robbi. Jika selama hidup ini jarang terhubung, maka bersiaplah kelak saat kita kembali pada-Nya kita menjadi orang yang sama sekali tidak diperhitungkan-Nya.


“Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit dan Kami akan menghimpunnya pada harikiamat dalam keadaan buta.” (Thaahaa: 124)

Renungkanlah wahai diri! Jika memperbaiki HP saja kita mau saja usaha ke sana ke mari. Untuk hati harusnya lebih-lebih lagi. Harus senantiasa dipelihara, secara berkala lakukan deteksi dini, lalu segera perbaiki! Sebelum terlambat dan menyesal tak berkesudahan. Naudzubillahi min dzalik. Nastagfirulloh Ya Allah.

-Umi Diwanti-


25 komentar :

  1. Nasihatnya jleb banget nih mba. Makasih banyak sudah di ingatkan supaya gak harta oriented

    BalasHapus
  2. Dan hp emak biasanya lebih cepat rusak dibanding hp bapak ya, hihihi...

    Selalu ada pembelajaran setiap berkunjung ke sini, "jika hp saya kalo rusak dibela2in diperbaiki, apalagi hati" T.T

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul sekali, coz HP emak itu HP bersama pasukan krucil biasanya. Sdh gt multifungsi bgt.

      Ga cm buat komunikasi tapi juga bisnis, belajar sgl mcm lwt OL, udah gt sambil masak pun emak tetap eksis sm HPnya. Wkwkwkk

      Jd emang gak boleh lama2 rusaknya. Apalagi hati emak, harus terpelihara dan terawat biar damai seisi rumah. Hihii

      Hapus
  3. Waduh, makjleb bgt nih. Ak tipikal yg gelisah jg klo hp rusak. Soalnya ngeblog pake hp sih, dpt pengetahuan baru di hp, bahkan dgrin qur'an buat debay jg di hp. Jd udh ga tergantikan banget. Ibarat relasi hp n memperbaiki hati it berhubungan soalnya berasa apa2 dst semua. 😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya betul. Teknologi harus mensupport pemeliharaan hati. 😍

      Hapus
  4. Betul betul betul. Belajar apa2 jua skrg kbanyakan dr HP. Mudahan teknologi dan hati kita saling bersinergi.

    BalasHapus
  5. Whahahah wah bener banget mbak, kalau hp ketinggalan kan gak bisa pinjem sama teman. Tapi kalau dompet masih ada teman disamping buat dipinjem uanganya hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, baginsbagian besar org saat ini HP adalah segalanya. Xixiii

      Hapus
  6. Terenyuh hati setelah membaca ini bener bgt sih udah gk bisa sama namanya handphone 😭😭😭

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mudahan yg menulis ni bs memgamalkan jua nah. 😫

      Hapus
  7. Dulu nisa sering banget meninggalkan hp dengan alasan tidak penting waktu sma. Mending bawa dompet aja haha. Dan sekarang malah kebalik lebih penting hp dibandingkan dompet. Tapi keduanya sama penting sih hihi.

    Apalgi sekarang semuanya perlu hp, baik dari segi mencari bahan ajar untk kuliah ataupun transaki semuanya perlu hp.

    MasyaAllah semoga hati ini selalu terjaga aamiin

    BalasHapus
  8. duh makjleb banget nih tulisannya. kadang kita sudah tahu hati ini semakin gersang tapi nggak mau berusaha cari cara menyegarkannya lagi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iy nah. Mudahan kita diberikan kemudahan memelihara hati.

      Hapus
  9. Iyaa kdg org lbh pnting duniawi dripda rohani, yaa itu yg kdg bkin kita lupa diri & krg brsyukur.. Mkasihh mbaa umi nasihatnyaa hehe :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bener Mba Lisa, seringnya gemerlap dunia bikin aspek rohani samar tertutupi.

      Makasih juga sudah mampir 😍

      Hapus
  10. Baca ini jadi agak-agak nyesak tapi benar sih kita memperbaiki diri tak secepat memperbaiki ho :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Rima, nulisnya juga sambil ada rasa ketabok muka sendiri. Wkwkk

      Hapus
  11. Saya suka artikel ini. Zaman sekarang memang banyak orang yang ngga bisa jauh dari handphone

    BalasHapus
  12. Iya ya mbak Umi..kita kalo hape ketinggalan atau rusak aja udah kelimpungan banget...tapi kdang hape juga bikin dekat yg jauh tpi bikin jauh yg dekat..

    Salam kenal dari saya ya mbak...

    BalasHapus
  13. Pernah juga kena teriakan bocah. "Bundaaa tarok dulu hapenya.". Abis itu istigfar..."iya..iya...". Dalam hati: bocah lebih penting dari hape. #eh jd curcol hahah

    BalasHapus
  14. Hp itu sdh seperti belahan jiwa, hati kosong kalau dia ga ada. eaa...

    BalasHapus
  15. ya ampun mbak kok nasib kita sama ya, kalo udah urusan hp pasti menyusahkan segala aktifitas komunikasi dan pekerjaan. kalo say lebih parah lagi mbak, hp saya hilang di curi orang pas lagi numpang tidur di SPBU saat perjalanan jauh. saya jadi kebingungan dan jadi gelagapan karena harus menyelamatkan beberapa akun didalam hp saya. alhamdulillah tidak ada data yg berharga didalamnya hanya saja saya harus merelakan sejumlah foto perjalanan saya. tapi ini jadi pelajaran buat saya agar lebih berhati - hati lagi. apalagi HP udah jadi barang yg sangat berharga buat aktifitas pekerjaan kita

    BalasHapus

My Instagram

Designed By OddThemes | Distributed By Blogger Templates