Minggu, 09 September 2018

#FBBKolaborasi, Membaca Perlu atau Kudu?


#FBBKolaborasi, Membaca Perlu atau Kudu?

Ini tantangan pertama saya ikutan FBB Kolaborasi. Sebagai pendatang dari di dunia blogger ini sesuati banget buat saya. Asli ibarat lagi jalan ke suatu kota yang belum pernah saya datangi. Tapi syukurnya teman-teman di komunitas FBB ini semuanya ramah, baik hati dan tidak sombong plus suka menabung. Yup, pastinya mereka suka nabung pahala.

Gimana nggak, sebagai pendatang baru yang lumayan lola temen-teman dengan telaten mengarahkan saya biar bisa ikutan FBB Kolaborasi ini. Daan, itulah yang akhirnya membuat saya berani untuk ikut tantangan ini. FBB Kolaborasi #1, bismillah.

Btw, sebenarnya saya bukan cuma new comer di dunia blogger, tapi juga sangat baru di dunia tulis-menulis. Ah kalau itu sih mungkin biasa ya. Tapi tahu gak, saya lebih baru lagi di dunia baca-membaca. Bahkan baru mulai berlatih membaca, itu pun masih banyakan dari gawai dibanding dari buku cetak. Whats? Kok bisa?! Ah saya juga bingung.

Orang bilang semua penulis itu awalnya adalah pembaca. Nah lo? What about me? Ah, berarti saya nggak mungkin bisa jadi penulis nih. Yah, mau bagaimana lagi. Membaca itu aktivitas mewah bagi saya. Kalau memang harus jadi pbaca dulu, sepertinya saya harus pamit mundur aja deh dari dunia kepenulisan.

Tapi, tapi, tapi ada satu kalimat dari salah satu guru nulis saya yang akhirnya bikin saya berubah pikiran. "Jika orang berilmu tidak menulis, maka orang tak berilmu akan menyebarkan kebodohan dan kesesatan." (Asri Supatmiati)

Bukan karena merasa berilmu sih, tapi merasa bersalah aja jika tidak turut berkontribusi dalam menyaingi arus kesesatan yang kian berseliweran. Ternyata, justru dari sinilah saya mau nggak mau harus membaca.

Bagaimana tidak, kalau saya nggak baca, apa yang mau saya tulis? Kalau saya nulis asal, maka berarti saya bagian dari orang tak berilmu itu tadi. Naudzubullah. Bukannya pahala investasi, bisa-bisa tulisan kita malah jadi dosa investasi.

Sejak saat itulah saya mulai memaksa diri membaca meski hanya artikel demi artikel. Untuk buku dan koran, masih harus berjuang untuk membacanya meski selembar demi selembar. Satu yang saya lakukan dalam mengupayakan cinta baca adalah berkumpul dengan mereka yang suka baca.

Di sana saya terpana dengan isi kepala mereka yang tertuang dalam pena. Yah itulah buah membaca. Teko hanya mengeluarkan apa yang ada di dalamnya. Jika diisi teh, keluarlah teh. Jika kepala diisi ilmu A, maka sudah pasti orang itu akan ahli menyampaikan tentang A. Nah proses pengisian kepala ini salah satu yang utamanya adalah membaca.

Jadilah saya semakin merasa bahwa saya sangat perlu membaca. Bahkan semua orang perlu membaca. Jika sebuah bangsa ingin menjadi pemimpin peradaban dunia maka generasi gemar membaca salah satu yang harus diwujudkan.

Tak salah jika harus ada upaya meningkatkan semangat baca anak bangsa. Selain motivasi juga perlu difasilitasi tentunya. Hmm, pas ya di bulan September ini dijadikan bulan gemar membaca dan kunjungan perpustakaan. Karena perpustakaan adalah salah satu fasilitas terbaik untuk menumbuhkan semangat baca.

Saya jadi ingat kenapa saya kurang suka baca. Salah satunya adalah lingkungan. Asli di rumah saya tak ada buku kecuali buku pelajaran wajib dari sekolah. Kunjungan ke perpustakaan juga nggak pernah. Sebab saya tinggal di desa, eh tepatnya hutan terpencil tempat orangtua bekerja.

Sama sekali tidak ingin menyalahkan orangtua. Sebab saya tahu kenapa bliau begitu, ya hasil dari lingkungan sebelumnya juga. Saya rasa juga tidak penting menoleh terlalu mundur ke belakang untuk mencari penyebab. Cukuplah ditengok sesekali saja. Selanjutnya pasang kuda-kuda untuk melangkah lebih baik ke depan.

Dari situ saya mikir, anak-anak saya nggak boleh lagi seperti saya. Yang baru berjuang gemar membaca di usia yang mulai menua. Sebagai emak saya harus mengajak anak-anak berkunjung ke perpustakaan. Dan ini harus dijadwalkan kayaknya, kalau nggak bakal nggak terlaksana.

Selain itu sepertinya juga harus menghadirkan suasana perpustakaan di dalam rumah. Emak kan rempong, nggak bisa sering-sering jalan ke perpus. Nah, perpustakaan mini di rumah atau setidaknya banyak buku bergelimpangan di setiap sudut rumah akan membantu anak lebih dini mengindra dunia literasi. Termotivasi lalu gemar membaca di usia muda. Dengan begitu, insya Allah mereka akan jadi manusia yang lebih berisi dari kita-kita saat ini.

Apalagi setelah saya teringat sebuah kalam yang mulia. Ayat cinta dari Sang Pencipta pada hamba-Nya. Ternyata kata pertama yang terlontar adalah "Iqro!" Bacalah! Ya Allah ternyata membaca bukan cuma perlu tapi juga kudu. Sebab ia adalah perintah langsung dari Zat yang menciptakanku. Duh malunya diri ini jika tak berusaha mencintai literasi.

Tapi saya yakin di sini, bersama teman-teman FBB pelan-pelan saya akan tertulari virus membaca dari mereka para seniorita saya. Paling tidak saya akan selalu membaca karya-karya pena mereka tiap minggu lewat program BW atau IW-nya. Hmm, apaan tuh? Bagi yang belum tahu dan ingin tahu, silakan deh kepoin Blog/ IG/ FP/ Twitter FBB. Female Blogger of Banjarmasin. Asik deh, banyak yang saya dapat dari sana. Tentang apa-apa yang diperlukan wanita dan emak-emak tentunya. Heee

Oke sampai di sini dulu coretan pertama saya bersama FBB Kolaborasi di keluarga besar FBB. Entahlah ini sudah bener atau belum. Saya berharap ada komen-komen cantik nan menggelitik dari tulisan ini. So sempatkan komen ya :). Thanks to all. Alhamdulillahi robbil alamiin. Selesai juga 😜

-Wati Umi Diwanti-

19 komentar:

  1. "perpustakaan mini di rumah atau setidaknya banyak buku bergelimpangan di setiap sudut rumah akan membantu anak lebih dini mengindra dunia literasi"

    Saya suka bagian ini dan memang benar mba, membiarkan buku mudah dijangkau anak membuat mereka mudah mencintai buku. Di rumah saya sedang membangun perpus mini buat keluarga kecil saya dan ketika melihat 2 anak dengan pe-we nya masing2 dengan 1 buku rasanya bahagia tak terkira, ga tau kenapa... padahal loh anaknya belum bisa baca, udah pasti mereka cuma liat gambar 😂😂😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ikut komen di komennya Mbak Fika lagi, hehehe.

      Setuju juga Mbak dengan bagian "buka bergelimpangan" itu 👆. Saya jadi punya hobi membaca juga karena itu. Sejak kecil, banyak bahan bacaan bergelimpangan di rumah saya. Mulai dari majalah, koran, dan buku. Meskipun begitu, saya masih merasa kurang dan akhirnya pergi sendiri ke perpustakaan 😁

      JK Rowling mengatakan:"Kalau kamu belum suka membaca, kamu hanya belum menemukan buku yang tepat." Semoga Mbak menemukan buku yang bisa membuat Mbak jadi gemar membaca. Semangat 👏👏👏

      Hapus
    2. Betul, betul, betul.. Tetap semangat. Apalagi ada diantara bubuhan pian nih. Tambah semangat 😍😍

      Hapus
  2. Tuntutan aktivitas sbrnya membuat kita mau gak mau harus membaca. Hal spt ini membuat kita akhirnya terbiasa u.membaca literatur kelas berat.

    BalasHapus
  3. Jadi ingat dulu aku suka baca juga karena lihat abahku yang doyan baca koran. Jadinya meski nggak dibiasakan membaca aku jadi suka membaca juga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memang dasar lah, apa yang diindra itu paten mempengaruhi dan membentuk habit seseorang.

      Hapus
  4. Kalo ak dulu waktu kecil emg ga suka baca. Tp sejak kls 2 SD dibelikan castil buku dongeng sejak itu ak suka baca. Emg cm dongeng sih tp it membantu banget buat aku mencintai buku.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Memang kadang perlu stimulasi dulu biar suka. Barabg aja duku apakah yang dibaca. Bila sudah suka, nanti senuanya jua dibaca. Jadi pelajaran buat menumbuhkan gemar baca ke anak2 sekarang.

      Hapus
  5. Suka membacaa yaa, pas sejak kapan ya nisa suka membaca 😂 seperti waktu SD menuju mts. Awalnya tu sulit banar membaca neh. Memang kudu ya membaca ini, karena dari membaca kita bisa mengetahu berita yang pasti hihi 😂 biar gak di bodohi oleh orang orang dengan menyebar berita bohong ataupun hoax 😁

    BalasHapus
  6. Tulisan jadi dosa investasi kata mbak, hehe. Jadi inget masa lalu pas awal nulis. AKu minta ajari ke seseorang. Lalu beliau bilang, selama di dalam naskahmu enggak ada masalah, pacaran, bersentuhan dll, aku mau ngajarin. Baik itu menulis atau membaca, semoga kita bisa berada di jalur yang positif.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Karena hisab itu akan ada nantinya.

      Hapus
  7. Bener banget, membaca memang jadi salah satu faktor penting yg bisa bikin kita lancar menulis. Jadi, mau ngga mau kita memang harus memaksa diri sendiri untuk membaca, walau sedikit demi sedikit. Semangat terus, Mba. Kalau sudah terbiasa, Insya Allah nanti akan jadi cinta 😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Insya Allah terus berusaha. Senang bisa gabung dikomunitas pecinta baca.

      Hapus
  8. Semangat Mbak Wati, saya salut Mbak berusaha untuk gemar membaca dengan aktivitas yang banyak dan usia yang tak lagi remaja. Semoga anak2 Mbak Wati punya semangat baca kayak emaKnya :) Jadi, membaca itu perlu dan kudu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mba Rindang. Di sini saya merasa dapat tambahan semangat. Semoga cita-cita Mba Rindang juga lekas tercapai. Sy aamiinkan.

      Hapus
  9. Yep, benar banget mba karena hanya dengan membaca kita bisa memiliki ilmu pengetahuan. Ya seperti kata orang kebanyakan membaca adalah jendela ilmu, mari kita tingkatkan gemar membaca biar jendela ilmu semakin terbuka lebar. Hahaha

    BalasHapus