Sekolah ke Mesir, Antara Kecemasan dan Harapan

Sekolah ke Mesir, Antara Kecemasan dan Harapan

(Review Sharing Tentang Sekolah di Al-Azhar, Kairo-Mesir, oleh Usth.Ir Mahbubah)
Oleh: Wati Umi Diwanti


Siang itu kepala cenat cenut, pengennya sih rebahan aja. Nggak ke mana-mana. Saat buka WA tiba-tiba ada grup baru "Madrasah". Setelah dibuka isinya kiriman sebuah chat bertuliskan bahasa Arab tulen nan panjang. "Ini modul buat kita siang ini", kalimat pengantar chat bahasa Arab tersebut. Oh iya, saya baru ingat kalau hari ini ada pertemuan berisi sosialisasi bagaimana cara dan kondisi sekolah di Mesir.

Sehari sebelumnya saya dapat chat masuk berisi tawaran mendengarkan sosialisasi tentang sekolah di Mesir. Tak panjang pikir saya pun langsung daftar. Tidak lain karena satu diantara tiga anak saya sangat semangat ingin sekolah ke Mesir. Jadilah hari itu meski kepala cenat cenut karena tensi lagi rendah, saya tetap berangkat.

Sama sekali tidak rugi bahkan keuntungan yang tiada tara bagi saya bisa berhadir di sana. Seorang ustadzah yang sekarang sedang mukim di Kairo memaparkan bukan semata tentang bagaimana sekolah di sana. Tapi menghentakkan kesadaran ini tentang hakikat menjadikan anak ulama. Bukan karena ingin mendapatkan gelar dunia, bukan. Apalagi harta. Jikapun ada, itu hanya efeknya. Yang terpenting adalah bahwa seorang ulama itu akan mampu mengajak tak hanya sekedar orang tua atau keluarganya masuk Syurga. Bahkan ia bisa mengajak warga satu kelurahan atau lebih. Tergantung pada kadar ke-ulama-annya.

Apa itu? Bukan sebatas ilmu yang dikuasainya, tapi bagaimana ia menerapkan dan menyampaikan kebenaran dari ilmu yang dimilikinya itu. Seseeorang yang berilmu tinggi tidak otomatis menjadi ulama jika hanya disimpan untuk dirinya. Atau sebatas menghasilkan karya tulis untuk mencapai sebuah gelar. Lebih tidak bermanfaat bahkan berbahaya jika ilmu itu justru digunakan untuk menyembunyikan atau menentang kebenaran dari Rabb-nya. Dan betapa banyak ulama jenis ini zaman sekarang, tukas Usth. Ir. Mahbubah.

Untuk itulah urgent bagi kita para orangtua untuk mencetak anak-anak kita menjadi ulama hakiki. Langkah pertama yang wajib dilakukan orangtua adalah menjaga makanannya. Kehalalan hal utama! Betapa ulama-ulama terdahulu itu terlahir dari penjagaan halal haram yang luar biasa. Selebihnya adalah pendidikan orangtua.

Beliau mengingatkan, bahwa betapa ruginya jika kita membina dan mendidik orang lain, sementara anak kita sendiri luput dari pendidikan kita. Apalagi jika sampai anak kita dididik oleh orang yang berbeda pemahaman masalah prinsip dengan kita. "Lebih baik anak kita tidak usah sekolah, ajak saja berdakwah setiap hari, biar mereka tahu apa yang orangtuanya pahami dan lakukan."

Ah, ini tamparan buat saya. Jangan sampai orang lain senantiasa dibuat paham, anak sendiri malah tidak dipahamkan. Kedekatan fisik harus disertai kedekatan pemikiran. Mungkin itu yang harus kita camkan sebagai orangtua. Agar saat baligh menyapa, anak kita telah siap menjadi pasukan tangguh penyampai kebenaran.

Selanjutnya adalah menyiapkan anak dengan ilmu-ilmu yang mampu menghantarkannya menjadi seorang mujtahid. Dan saya rasa di sinilah kelemahan kita (saya) sebagai orangtua. Kita tidak punya ilmunya untuk diwariskan. Untuk itulah anak perlu dicarikan tempat belajar yang mumpuni.

Pusat pendisikan Al-Azhar Kairo, salah satu yang layak dijadikan pilihan. Banyak ilmu murni yang diajarkan dengan sangat baik di sana. Hanya saja, semata belajar di sana tanpa filter juga cukup berbahaya. Karena bisa saja pengantar ilmunya bermuatan sekuler liberalis. Karenanyalah perlu dasar kuat pada diri anak. Agar bisa menyaring mana ilmu yang bisa diserap, mana yang cukup didengar, jika perlu diluruskan.

Filter itu adalah bentukan kita sejak dini pada anak. Dan saat mereka dikirim ke Mesir, mereka akan sangat perlu komunitas dan bimbingan agar filter dasarnya terjaga. Di sinilah perlunya sebuah Ma'had yang baik untuk menitipkan mereka. Jika dibiarkan bebas, maka tidak akan ada bedanya sebagaimana anak-anak kos di tanah air. Bebas interaksi dengan lawan jenis dan interaksi dengan pemikiran bengkok bahkan di luar Islam.

Al-Mufasi, adalah ma'had binaan beliau yang tidak menampung banyak orang. Dan tentu saja berbayar, karena ma'had perlu mendatangkan guru-guru, khususnya untuk mengajar di satu tahun pertama masa persiapan tes masuk Al-Azhar. Juga perlu mudir yang mendampingi, mengawasi dan membina mereka sebagai ganti kita, orangtuanya.

Terakhir, kesempatan bicara beliau serahkan pada putri beliau, Khadijah. Saat ini berusia 19 tahun, semester 3 Universitas Al-Azhar. Lantang bicaranya dan konten isi pembicaraannya membuat saya semakin yakin ingin melepas anak-anak belajar di sana. Dia katakan, misinya bukan untuk menggantikan ulama yang ada. Namun bagaimana ilmu yang mereka punya bisa digunakan untuk men-syarah (menjelaskan) kitab-kitab seorang Ulama Mujtahid mutlak, hingga mampu menarik para ulama yang ada ke jalan yang sesungguhnya.

Cita-cita luar biasa dari seorang remaja belia. Dari generasi sepertinya, suatu hari nanti pasti akan lahir ulama-ulama mujtahid mutlak yang didamba umat. Semoga anak-anak kita pun bisa sepertinya.

Walhasil cenat cenut kepala tak lagi terasa, kecemasan saya pun berangsur sirna. Cemas siapa yang menjaga mereka. Cemas bagaimana pembinaan dan dakwah mereka di sana. Adanya Ma'had yang mengutamakan pembinaan menjadikan hati lega. Lalu muncul lah harapan yang besar anak-anak saya semuanya sedia dan sanggup melewati proses belajar di sana. Sebab tak semua indah tak semua mudah. PR bagi saya saat ini adalah bagaimana menancapkan pada mereka bahwa semua itu semata demi mencari ridho Allah. Dengan lillah semua akan menjadi indah.

Untuk itu, pastinya sangat penting menata rencana sebaik-baiknya. Agar saat usia mereka memenuhi syarat semua telah siap. Sembari berdoa, Ya Robb cukupkanlah rezeki kami untuk menghantarkan anak-anak kami menjadi ulama hakiki di kemudian hari. Aamiin aamiin aamiin yaa Robbal alamiin. Sambil menatap wajah si Anak yang saat ini sangat bersemangat ingin ke Mesir. "Semoga semangatmu tetap menggebu hingga waktunya tiba nanti ya Nak."

NB.
1) Al-Azhar menerima anak usia 13-20 tahun.
2) Ijazah terakhir hanya diperlukan untuk setor ke KBBRI
3) Yang diperlukan anak dari tanah air adalah bacaan Alquran yang baik dan hafalan serta ilmu bahasa Arab. Selebihnya akan disiapkan di Ma'had
4) Setahun pertama sebelum ikut tes pendaftaran di Al-Azhar, Al-Mufasi memfasilitasi mengajarkan semua pelajaran yang akan dijadikan bahan tes.

2 komentar :

My Instagram

Designed By OddThemes | Distributed By Blogger Templates