Mental Kerupuk VS Batu Karang, Kamu Pillih Yang Mana?


Mental Kerupuk VS Batu Karang, Kamu Pillih Yang Mana?


Sobat muda yang dirahmati Allah. Tau  kerupuk kan ya? Dan kita pasti sering dengar orang bilang "mental kerupuk". Ya gitu, dapat tekanan dikit ancur. Kena angin melempem. Kena air, apalagi, bisa ikutan mencair.

Beda dengan batu karang di lautan. Meski tiap saat ia diterpa gelombang dan tak jarang diserang badai. Ia tetap kokoh. Apalagi sekedar sepoyan angin pantai.

Begitulah para sahabat Rasulullah. Mental dan keimanan mereka bahkan lebih kokoh daripada batu karang. Saat mereka menjadikan Islam sebagai identitasnya. Tak satupun kekuatan makhluk mampu melemahkan iman mereka.

Pasti sobat muda sudah pada tau. Bagaimana Bilal disiksa. Dijemur di tengah terik padang pasir lalu dadanya ditimpakan batu. Tak sedikitpun membuatnya goyah iman. "Andai ada kata selain Ahad yang lebih dibenci kafir Quraisy, aku akan menyebutkannya." Bilal justru menantang.

Begitu juga bagaimana Sumayyah yang tegar menyaksikan suaminya disiksa di depan matanya. Dan akhirnya ia pun dimasukkan dalam bejana berisi timah yang mendidih. Tak mampu meluluhkan imannya. Bahkan ia memasuki bejana itu dengan senyuman. Tersebab kekuatan iman.

Tak kalah fenomenal cerita Mushab bin Umair, Sang duta Islam pertama. Karena jasanya Madinah bisa ditaklukan dan akhirnya Rasul memutuskan hijrah. Dakwah Mus'ab membuat masyarakat Madinah siap dan berharap Rasul memimpin mereka dengan Islam.

Dulunya Mush'ab seorang anak bangsawan. Ketertarikannya pada Islam menggerakkannya untuk diam-diam mengintip Rasul mengajarkan Islam di Darul Arqom. Lalu iapun terpesona dengan islam dan bersahadat.

Otomatis orang tuanya kecewa dan singkat cerita diputus hubungan. Pemuda kaya raya menjadi miskin seketika. Bahkan dalam riwayat, akhir hayatnya hanya memiliki selembar kain. Jika ditutupkan ke kakinya maka wajahnya terbuka. Jika ditutupkan ke wajahnya maka kakinya yang tersingkap. Dan kain itu penuh tambalan. Hingga Rasulpun menangis. "Wahai Mush'ab, dulu engkau seorang pemuda kaya dengan pakaian indah. Sekarang kau seperti ini."

Dan masih banyak lagi kisah kokohnya iman para sahabat kala itu. Bagaimana dengan kita sekarang? Yuk kita renungkan masing-masing.

Saat kita mulai berubah, tak lagi hura-hura misalnya. Atau tak mau menerima tawaran rokok dan obat-obatan terlarang. Lalu ada teman kita yang berujar. "Banci lu Bro."

Hmmm, kira-kira apa yang kamu lakukan. Banyak lo yang cuma gegara ucapan ejekan begitu lalu mau melakukan hal buruk yang dilarang Islam. Demi sebuah pengakuan dan pertemanan goyah jalan hijrah.

Misalnya lagi bagi sobat muslimah. Saat mulai nutup aurat dan rajin ngaji. Juga tak mau pacaran lagi. "Ssst, ada ustadzah lewat tuh."

Atau saat mulai berani berdakwah ada yang nyeloteh. "Eh sist kok apa-apa Islam sih, ini tuh Indonesia tau. Agamanya macam-macam. Klo mau nerapin Islam. Gih pindah ke Arab sono!"

Apalagi misalnya saat kita mengenalkan kesempurnaan Islam. Bahwa untuk memenuhi seruan Allah untuk ber-Islam kaffah butuh yang namanya Khilafah. Sebuah sistem pemerintahan berlandaskan Alquran dan sunah. Warisan Rasulullah Saw.

"Dahulu para nabi yang mengurus Bani Israil. Bila wafat seorang nabi diutuslah nabi berikutnya, tetapi tidak ada lagi nabi setelahku. Akan ada para Khalifah dan jumlahnya akan banyak." (HR. Muslim)

Lalu ada yang bilang itu paham Islam radikal. Berbahaya dan penyampainya dianggap intoleran dan perusak persatuan. Bahkan zaman now yang berani lantang menyuarakan bisa berhadapan dengan hukum. Apa yang bakal kita perbuat?

"Kita mah yang penting sholat, Islam yang biasa-biasa aja." Lalu akhirnya tak mau bahkan menjauh dari kajian Islam selain urusan aqidah dan ibadah. Begitukah sikap kita?

Atau sebaliknya. Makin Islam dihina, difitnah, dan diupayakan untuk dipisahkan dari kehidupan. Semakin kita mendalami kajian Islam secara kaffah. Semakin berani menyampaikan kebenaran. Lalu Islam perlahan makin dikenali. Makin dicintai dan diingini penerapannya. Oleh semua.

Pilihan ada ditangan kita. Terutama kawula muda. Di tangan kalianlah masa depan negeri dan agama ini berada. Akankah kalian memilih mental Islam sekokoh karang seperti para sahabat. Atau sebaliknya. Bermental kerupuk, lalu menjadi santapan musuh-musuh Islam.

Oleh: Wati Umi Diwanti
__________________
Dimuat di: http://www.soeara-peladjar.com/2018/04/mental-kerupuk-vs-batu-karang-kamu.html

Posting Komentar

My Instagram

Designed By OddThemes | Distributed By Blogger Templates