Haruskah Pernikahan Dini Diakhiri?




Haruskah Pernikahan Dini Diakhiri?
Oleh: Wati Umi Diwanti

(Radar Banjarmasin, 18/8/2018)


Pro kontra pernikahan dini terus terjadi. Di tahun 2018 ini setidaknya ada tiga kasus yang viral. Rencana pernikahan dini Fitrah dan Syamsuddin sempat akan digagalkan. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) dan Kementerian Sosial meminta ditunda karena mereka melanggar UU pernikahan. Berkat Mahkamah Agung (MA) dan Kementerian Agama Bantaeng mengakui putusan dispensasi yang dikeluarkan Pengadilam Agama, akhirnya mereka tetap bisa menikah secara resmi. (m.cnnindonesia.com, 22/4/18)

Di Jeneponto, bahkan hingga ibu mempelai wanita histeris dan pingsan. Sebab anaknya batal menikah lantaran tak satupun penghulu di desa kediaman mempelai pria mau menikahkan. Mereka takut pada aturan hukum karena usia mempelai yang muda. Sementara di desa kediaman mempelai wanita lebih dulu melakukan penolakan. "Awalnya dia minta nikah di sini, tapi saya selaku pihak pemerintah jelas tidak mengizinkan hal itu, karena melanggar aturan. Saya memberi peringatan, akad nikah jangan sampai berlangsung di Sinjai," ungkap Azharuddin, lurah Balangpina. (bbc.com, 8/5/2018)

Terakhir ini viral adalah pernikahan dini di Kabupaten Tapin. Yakni A (13) dan I (15). Sehari setelah resepsi pernikahan mereka diputus tidak sah, di Mapolsek Binuang. Karena A dan I menikah dengan pengulu kampung. Sedangkan I masih memiliki kakak laki-laki, harusnya berwali pada haakim, petugas resmi negara.

Jika memang faktor tidak sah secara agama yang jadi alasan. Seharusnya pejabat daerah membantu kedua mempelai untuk mensahkan pernikahannya. Menikahkan kembali dengan wali hakim yang semestinya. Namun justru disitulah masalahnya. Pernikahan dini semakin hari semakin tabu, pelakunya kerap dibuat malu. Seperti halnya dua di atas. Padahal dalam UU pernikahan tahun 1974 ada pasal yang memberi celah dispensasi menikah muda dengan adanya alasan.

Sungguh kejadian yang sangat miris. Nikah muda yang dianjurkan dalam Islam guna menghindari perzinahan. Saat ini justru dilakukan berbagai cara untuk pelarangannya. Baik karena alasan kesehatan, tingginya angka perceraian, KDRT dan terenggutnya hak anak khususnya perempuan. Padahal hingga saat ini belum ada bukti dari hasil penelitian ilmiyah terkait hubungan usia dengan kesehatan dan perceraian. Bahkan realita di masyarakat, angkatan orangtua atau kakek nenek kita menikah muda tidaklah mengalami masalah kesehatan dan langgeng hingga maut memisahkan.

Jikapun menjadi salah satu faktor resiko,  namun pernikahan dini bukan satu-satunya. Masih banyak faktor resiko lainnya. Entah kenapa pernikahan dini yang menjadi tertuduh utama. Sampai-sampai harus revisi UU pernikahan bahkan diadakan Perppu untuk mencegahnya (klikpositif.com, 7/8/2018).  Sementara sikap terhadap maraknya perzinahan tidak sedemikian rupa. Bahkan cenderung legal. Asal suka sama suka, aman! Tak ada UU yang bisa menjerat. Padahal jelas, resikonya jauh lebih besar.

Adapaun masalah terenggutnya hak pendidikan anak perempuan, bukankah aturan sekolah yang jadi penghalanganya. Harusnya tak perlu ada syarat belum menikah untuk bisa terus bersekolah. Sebagaimana Islam memandang menuntut ilmu itu dari buaian hingga liang lahat. Negara memfasilitasi tanpa dibatasi satatus menikah atau belum.

Islam Memandang Pernikahan

Menyikapi masalah ini, ada baiknya kita menengok ke belakang. Sepanjang sejarah penerapan Islam, kasus perceraian, kekerasan seksual dan resiko kematian ibu sepi dari pewartaan. Tentu bukan demgan membatasi usia pernikahan melainkan dengan melengkapi penerapan syariat nikah dengan syariat lainnya secara keseluruhan.

Munculnya keinginan menikah adalah hal yang fitrah. Setiap manusia normal mdianugerahi Allah naluri seksual dengan tujuan melestarikan kehidupan keturunan manusia. Berbeda dengan kebutuhan fisik, naluri tidak akan muncul tanpa ada rangsangan dari luar. Untuk itu Islam sangat menjaga berbagai rangsangan yang tidak semestinya menghampiri anak-anak.

Diantaranya dengan menetapkan adanya batasan aurat dan larangan menampakkan kemesraan di tempat umum. Terlebih lagi, hal-hal yang berbau pornografi dan pornoaksi jelas diharamkan. Tak boleh beredar meski mampu mendatangkan keuntungan materi.

Selain itu, Islam memberikan kebutuhan pokok ibu dan anak lewat jalur kepala keluarga dan kas negara. Karenanya seorang ibu bisa fokus dan maksimal mencurahkan perhatian pada anak-anaknya tanpa harus memikirkan masalah nafkah. Hal ini membuat anak terpenuhi kebutuhan kasih sayangnya tanpa harus mencari-cari di luar rumah. Hingga waktunya sekolah, anak-anak pun kembali disambut dengan berbagai fasilitas dan pelayanan pendidikan terbaik yang disediakan negara secara cuma-cuma. Berbagai penghargaan menanti mereka yang bersungguh-sungguh menuntut ilmu dan menghasilkan karya. Pendidikan Islam juga membentuk kokohnya aqidah dan  kepahaman anak terhadap seluruh taklif hukum sebelum mereka balig. Termasuk di dalamnya terkait hak dan kewajiban dalam rumah tangga.

Dengan demikian, secara alami pikiran anak tidak akan dimonopoli hasrat seksual yang menuntut pemenuhan. Jikapun ada diantara mereka yang menikah usia muda, bisa dipastikan mereka menikah karena telah siap. Jadi, semuda apapun usia pernikahan tidak akan bermasalah. Berbeda dwngan sekarang, hasrat seksual anak terlanjur memuncak akibat rangsangan yang bertebaran bebas dimana-mana, sedangkan mereka kering ilmu (agama).

Dengan demikian, maka sebenarnya pernikahan dini bukanlah sumber petaka yang harus diakhiri. Apalagi dengan jalan mengobok-obok syariat pernikahan yang telah Allah tetapkan. Justru yang harus dilakukan adalah menyempurnakan syariat pernikahan dengan penerapan syariat Islam lainnya secara keseluruhan. Dengannya, pasangan muda ataupun tua sama-sama mampu menciptakan kehidupan yang sehat dan bahagia. Insya Allah.


Posting Komentar

My Instagram

Designed By OddThemes | Distributed By Blogger Templates