Agar Istikamah Menulis: Ikhlaskan Lalu Paksakan


Agar Istikamah Menulis: Ikhlaskan Lalu Paksakan


Dua kata yang tidak asing. Karena segala sesuatu itu dilakukan di antara dua itu. Kalau tidak ikhlas, mengalir begitu saja dengan ringannya. Atau karena paksaan. Baik 'ter' atau 'di' paksa.

Kuliah WA (Kulwa) sederhana yang begitu luar biasa. Ternyata yang sering membuat tujuan tinggal kenangan itu salah satunya karena salah menempatkan kapan harus ikhlas dan kapan harus dipaksa.

Jadi ingat cerita sayembara kolam buaya. Sang pemenang sayembara, saat dikabarkan berbagai hadiah yang berhak dia dapatkan, hanya satu yang dia mau. Dia mau tau siapa yang sudah semena-mena, mendorongnya hingga jatuh ke kolam buaya.

Memang benar, karena terpaksa ia bisa menjadi juara. Tapi kemampuannya itu hanya sementara. Andai ada sayembara yang sama, bisa dipastikan untuk sekedar mendekat saja mungkin dia tak mau lagi. Kecuali ada yang memaksanya lagi. Seret, ceburkan. Itu pun belum tentu berhasil lagi. Begitulah kalau terpaksa, jikapun ada hasilnya, ya hanya saat itu saja.

Begitu juga dengan menulis. Karena terpaksa dan dipaksa membuat tugas akhir (TA)/ skripsi agar bisa lulus dari kampus. Maka semua mahasiswa akhirnya berhasil membuat satu karya tulis. Tapi, ya cuma sekali itu. Setelahnya? Bikin tulisan satu kertas folio saja, mungkin sudah tidak bisa. Begitulah jika dipaksa. Berbeda ketika seseorang ikhlas mendedikasikan diri jadi penulis.

Tapi jangan salah, setelah ikhlas mau jadi penulis, juga belum pasti berhasil. Ha? Iya, coba saja kalau mau jadi penulis hanya bermodal mood. Kalo lagi sreg, nulis, kalau tidak, ya tidak menulis.

Jika menunggu waktu lapang, anak anteng, dan semua tugas sudah rampung baru menulis. Dijamin emak-emak tidak akan ada yang bisa jadi penulis. Kapan sih emak-emak tidak rempong? Saat anak-anak pulas? Seringnya sih emaknya juga ikut pulas. Bahkan kadang lebih dulu pulas daripada anaknya. 😄 Xixixi..

Saat anak-anak aktif? Apalagi! Bisa tidak keluar tanduk saja sudah untung. Terus bagaimana dong? Ya harus dipaksakan. Buat jadwal rutin berlatih, lakukan! Apapun yang terjadi, usahakan! Memang tidak gampang, tapi karena sebelumnya menjadi penulis adalah pilihan dengan kerelaan, insya Allah semua tantangan bisa terlewatkan.

Jadi, yang sekarang mau jadi penulis karena terpaksa, segera direlakan, diikhlaskan saja. Toh menulis yang baik-baik itu pahalanya banyak lo, bahkan bisa terus mengalir meski darah kita sudah tidak mengalir. Kalo tidak ikhlas, kan sayang, tidak dapat pahalanya. Karena "innama a'malu binniyaat" (sesuatu itu tergantung niatnya).

Bagi yang sudah ikhlas tapi belum berhasil menulis. Nah, mungkin harus pakai acara 'dipaksa' dulu, sampai nantinya jadi habit yang mengasyikkan.

Paksa membaca agar menambah wawasan. Paksa menulis apa saja. Jangan terbebani dengan like, share atau komentar orang. Tulis lagi, lagi dan lagi. Jangan biarkan ide-ide hanya bergentayangan dalam benak. Tuangkan dalam tulisan, apapun hasilnya. Yang penting itu bukan kalimat pelanggaran (hukum Allah).

Jika belum bisa-bisa juga, coba ingat-ingat lagi kenapa kita memilih jadi penulis. Jika di situ belum ada jawaban meyakinkan, wajar menulis masih menjadi beban. Berlatih pun sulit dipaksakan. Dan lama-lama tujuan tinggal kenangan. 😧

Hai diriku, hai para (yang bercita-cita jadi) penulis, sudah ikhlaskah kita? Kalau sudah, yuk paksa diri untuk berkarya. Dunia menanti kebenaran yang menyapa lewat orang-orang yang ikhlas berbagi lewat lisan maupun tulisan. Jangan biarkan orang jahat lebih dulu menghembuskan kesesatan.

Wahai para emak berdaster dan berblazer, agar media sosialmu bisa lebih berguna, hiasi dengan kalimat penuh makna. Menulislah dengan indah, maka dunia pun akan berubah!

Wati Umi Diwanti, 03.08.2017

Posting Komentar

My Instagram

Designed By OddThemes | Distributed By Blogger Templates