Merebaknya Generasi 'Bowo', Andil Siapa?

//Merebaknya Generasi ‘Bowo’, Andil Siapa?//
Oleh: Wati Umi Diwanti*

(Radar Banjarmasin, 06/07/2018)

Belakangan ini dunia maya digemparkan oleh kehadiran sosok Bowo Alpenlieebee, siswa kelas VIII  yang mendadak tenar bermodal aplikasi Tiktok. Bak artis kenamaan, ia telah berhasil menyelenggarakan beberapa even meet and greet dengan para fans-nya. Dengan tarif yang tidak murah, 80K hingga 100K. Meski demikian tak sedikit yang mau berhadir. Bahkan ada penggemarnya yang menyatakan rela jual ginjal demi bertemu Bowo. (TribunJakarta.com, 30/06/18)

Tidak sekedar itu, bahkan ada beberapa remaja putri yang melafazkan lewat status media sosialnya tentang kerelaannya memberikan keperawanannya pada Bowo. “Kak Bowo ganteng banget. Saya rela ga masuk Syurga asal perawanku pecah sama Kak Bowo. Moga Kak Bowo baca ini.” Dan masih banyak lagi ketidak wajaran lainnya. Dan ini baru satu, padahal ada banyak yang serupa Bowo dan para fans-nya ini di negeri ini. Sebagai gambaran bahwa generasi saat ini mengalami keterpurukan kualitas yang sangat memprihatinkan.

Padahal negeri ini mengalami berbagai masalah dan musibah. Siapa lagi yang bisa diharapkan untuk melakukan perubahan di masa mendatang jika bukan generasi mudanya. Dengan kondisi remaja saat ini, jangankan berharap mereka membantu mencari solusi, yang ada kehadiran mereka justru membuat masalah bertubi-tubi. Karenanya sangat penting bagi kita untuk mencari solusi hakiki masalah ini.

Dari tiga faktor pembentuk generasi, tak dipungkiri lingkungan keluarga adalah yang utama dan pertama memberi warna. Apalagi dimasa remaja, dimana mereka dalam fase mencari pengakuan diri. Maka sangat penting bagi para orang tua memberikan apresiasi dan menanamkan tentang hakikat diri. Bahwa yang harusnya dicari manusia paling utama adalah ridha dari Sang Penciptanya.

Hanya saja, kita pun tak bisa pungkiri bahwa anak-anak tak selamanya bersama orang tua. Tak ada orang tua yang bisa membersamai anak-anaknya dua puluh empat jam penuh. Apalagi di zaman sekarang di tengah himpitan ekonomi. Tak jarang seorang ibu pun harus keluar kandang, ikut andil dalam pencarian nafkah keluarga. Jika pun ibu tak bekerja, maka sang anaklah yang meninggalkannya, baik untuk sekolah atau aktivitas lainnya.

Maka keberadaan masyarakat yang baik pun wajib adanya.  Yakni masyarakat yang memiliki kesadaran tinggi pada setiap yang terjadi pada generasi.  Tak sungkan saling menegur dan mengingatkan jika terjadi pelanggaran. Tentunya di sini sangat diperlukan kesamaan standar baik dan buruk. Sehingga penyelesaian masalah tidak justru mengundang kontroversi antar anggota masyarakat itu sendiri.

Selain lingkungan dunia nyata, lingkungan dunia maya pun tak kalah penting mempengaruhi tumbuh kembang generasi. Apalagi di zaman milenial seperti sekarang, akses media bisa masuk ke mana saja. Seperti halnya kasus Bowo ini adalah buah dari perkembangan dunia maya. Tanpa adanya kontrol dan pengaturan yang baik, kemajuan teknologi yang diharapkan mempermudah kehidupan manusia bisa berbuah bencana.

Dalam hal ini baik masalah kualitas pendidikan keluarga, lingkungan masyarakat maupun penataan media semuanya membutuhkan peran penguasa. Misalnya saja, dalam keluarga. Selain perlu ilmu, para orang tua juga perlu waktu dan tenaga dalam memaksimalkan fungsi pendidikan keluarga. Bagaimana mereka bisa mendidik dengan baik jika mereka sendiri tak tahu ilmunya.

Sistem pendidikan saat ini tak memberikan jaminan seseorang punya keahlian sebagai orang tua. Apalagi sekarang, dunia pendidikan lebih terfokus pada bagaimana peserta didik mampu memasuki dunia kerja. Sementara kesiapan memasuki dunia rumah tangga itu urusan masing-masing. Padahal ini penting untuk penentuan kualitas generasi bangsa berikutnya.

Belum lagi masalah waktu dan tenaga. Sistem ekonomi kapitalis yang diadopsi negeri ini membuat banyak keluarga harus berjuang mati-matian untuk sekedar bertahan hidup. Hingga tak bisa hanya mengandalkan kepala rumah tangga untuk bekerja, para ibupun harus ikut bekerja. Maka wajar jika seorang ibu tak lagi bisa mendampingi anak-anaknya dengan sempurna.

Begitupun kondisi masyarakat saat ini. Efek dari aturan yang sekuler, memisahkan agama dari kehidupan, masyarakat hidup dalam kebebasan yang dipertontonkan. Jikapun orang tua sudah berjuang memberikan bentukan terbaik, bagaimana bisa anak-anak bisa bertahan jika apa yang mereka saksikan dilingkungannya justru berkebalikan.Demikian halnya linkungan dunia maya. Apapun beredar di sana. Kebaikan dan keburukan memiliki kebebasan yang sama. Siapapun bisa mengaksesnya.

Jadi, kualitas keluarga dan masyarakat sangat bergantung pada faktor ketiga, yakni negara. Sehingga sangat disayangkan sekali jika negara masih mempartahankan sistem sekuler kapitalis. Membiarkan negeri ini diatur oleh aturan manusia dan sungkan mengambil agama (Islam) sebagai penyelesaian. Padahal Isalm adalah solusi hakiki dan menyeluruh untuk setiap masalah.

Maka jelas lah bahwa sistem kehidupan yang diadopsi penguasalah yang memiliki andil terbesar dalam menentukan kualitas generasi sebuah negeri. Lahirnya generasi ‘Bowo’ ini hayalah sebagian dari buah busuk sistem sekuler kapitalis. Hasil dari sterilnya kehidupan manusia dari aturan agama dan menjadikan materi sebagai tujuan utama. Jika terus dipertahankan, tak menutup kemungkinan the next ‘Bowo’ akan lebih hancur dan menghancurkan negeri. Allahu a’lam.

“Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk secara khusuk mengingat Allah dan mematuhi kebenaran yang telah diwahyukan (kepada mereka) dan janganlah mereka (berlaku) seperti orang-orang yang telah menerima Kitab sebelum itu, kemudian mereka melalui masa yang panjang sehingga hati mereka menjadi keras. Dan banyak diantara mereka menjadi orang-orang yang fasik.” (TQS. Al-Hadid: 16)

-------------------------

Posting Komentar

My Instagram

Designed By OddThemes | Distributed By Blogger Templates