Ngabuburit Bikin Menjerit (lagi)


//Ngabuburit Bikin Menjerit (lagi)//


Lagi-lagi bukan niat ngabuburit. Kebetulan habis antar soulmate ke Bandara. Pulangnya sore, jalanan padat. Biasalah pada sibuk cari bukaan.

Dibalik keriuhan jalanan, tak sengaja liat di pinggiran jalan, masih belum jauh dari bandara. Seorang bapak-bapak paruh baya jongkok mengahadap ke parit jalan.

Terlihat lemah, di pundaknya kulihat plastik transparan kusam berisi poster-poster gambar binatang. Cukup menjelaskan bahwa beliau sedang menjemput rizkynya lewat penjualan poster-poster itu. Entah sudah adakah yang laku. Jikapun laku, entah cukupkah untuk keperluan keluarganya.

Diantara sedih dan bingung mau bantu apa aku hanya bisa berdoa. Moga Allah cukupi segala kebutuhan beliau sekeluarga.

Lanjut perjalanan, di antara keramaian orang yang berburu menu bukaan. Kutemukan lagi sosok penanggung nafkah yang wajahnya pun sayu.

Tubuhnya dipenuhi celemek yg disandang di salah satu bahunya. Satu tangan lainnya membawa serbet dan di atas kepala juga diletakkan beberapa serbet jualannya.

Kulihat jam sudah hampir magrib, dan bapak ini masih bejalan. Mungkin berharap ada diantara para pencari menu bukaan yang berminat dengan dagangannya.

Sayang, sepertinya orang yang lalu lalang sedang fokus pada pencarian makanan. Oh, lagi-lagi aku membayangkan, pasti istri dan anak-anaknya sedang menantikan beliau penuh harap.

Lagi, saat mampir di salah satu tempat untuk sebuah keperluan. Ada sebuah meja terhampar. Kulihat ada kue-kue dan minuman digelar. Dan sejak awal aku mampir sampai pulang lagi tak satupun kulihat orang mampir.

Aku lewat dengan tatapan sengaja kulebarkan, agar bisa melihat roman wajah si penjaga dagangan tanpa ketahuan. Sebagai orang yang tak asing dengan dunia perdagangan, sangat bisa kurasakan apa yang dirasanya.

Ya Robb, meleleh hati ini. Jikapun aku membeli barang mereka satu per satu, sekuat apa aku bisa? Sementara aku sendiri harus pandai-pandai memanfaatkan uang nafkah suami agar kebutuhan kami, khususnya buat anak-anak bisa terpenuhi.

Lagi pula pembelianku yang tak seberapa tak akan mampu merubah nasib mereka. Jika yang kusaksikan hari ini yang paling mencolok perhatian ada tiga, sejatinya ada ratusan bahkan ribuan kali jumlah yang senasib mereka.

Dan seketika aku ingat daftar gaji yang ratusan juta itu. Dikali berapa orang, dikali berapa bulan rapelan. Jumlah yang spektakuler. Bisa buat menghidupi beberapa keluarga selama berbulan-bulan bahkan tahunan.

Diantara ribuan warga berjuang hanya demi bertahan hidup. Tiba-tiba ada pembentukan tim baru, yang memakan dana negara milyaran. Entah apa kontribusinya untuk perbaikan negeri ini, sama sekali tak kami pahami.

“Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit dan Kami akan menghimpunnya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS.Thaha: 124)

Ayat ini lebih mudah kupahami, karenanya sebagai sesama, meski aku tak bisa membeli setiap dagangan mereka tak jua mampu berderma harta.

Setidaknya aku masih punya kata dan media. Menyeru siapapun yang ingin ikut membantu. Bahwa kesempitan itu akan sirna dengan memperhatikan peringatan Ilahi. Mengembalikan pengelololaan kehidupan ini pada aturan yang telah ditetapkanNya.

"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya." (QS.Al-A'raf: 96)

Insya Allah semua kita sudah tahu apa makna taqwa. Moga Ramadan kali ini benar-benar momen untuk kita meraih taqwa pribadi, keluarga dan negara.

-Wati Umi diwanti-
Ramadan15, 30.05.18

Posting Komentar

My Instagram

Designed By OddThemes | Distributed By Blogger Templates