Negeri Penuh Berkat Yang Terjerat


//Negeri Penuh Berkat yang Terjerat//

Saya tidak lahir di sana, tak jua punya saudara se-darah di sana. Tapi pernah tinggal di sana karena ada keluarga yang menyayangiku di sana.

"Ini lo anakku sing neng Banjar teko, niki putune wes telu." Begitulah ucap beliau berdua setiap ada tamu yang datang dan (pastinya) bertanya-tanya siapa kami.

Waktu kecil pernah tinggal di sana agak lama, saat Abah operasi dan Mama menitipkanku ke bliau. Mandi di sana pakai air sumur. Seger, sejuk dan super bening. Karena memang posisi desanya di pegunungan.

Tapi kemudian ada kemajuan, ada aliran air lewat pipa-pipa hingga tak perlu lagi menimba. Anehnya keran airnya tak pernah ditutup, dibiarkan luber, seluber-lubernya di jeding (bak air buatan yang sangat luar).

Urusan bersuci pokokny haqqul yakin tu air selalu suci. Selain besarnya lebih dua kulah, air yang selalu luber bikin air jeding itu selalu terjaga kesuciannya.

"Om ini air bagus bener, diluber-luberin gini bayarnya sebulan berapa?" "Ga bayar kok, paling kalo ada pipa yang rusak itu kumpulan 10rb/rumah buat ganti pipa. Wong itu ledeng bikinan warga kok, langsung dialirkan dari sungai di gunung sana."

Masya Allah luar biasa, dan pertanyaan skaligus pernyataan saya saat itu "Tu kan bisa air bersih dinikmati warga secara gratis. Maksi-maksinya ya cuma biaya perawatan alat. Karena memang swadaya masyarakat."

Kejadian itu puluhan tahun silam saat aku belum berkeluarga. Sekarang saat sudah beranak tiga ternyata ledeng gratisan itu masih ada. Kali ini kami berkesempatan njebur langsung di bagian sungai yang airnya dialirkan itu.

Hmm, seger dan uenak bener berendam di sana. Sepi tanpa ada pengunjung lain, karna bagi warga di sana sungai seperti itu biasa saja.

Beda kalo di kota, kalo ada yang sebagus itu pasti sudah ada yang magarin terus ditarik biaya masuk dan parkir. Itupun ga bisa leluasa karena dibatasi dengan pengunjung lainnya.

Saat ngobrol sama Bulek, saya tanya-tanya. "Ini yang dapat ledeng gratisan ada berapa rumah?" "Hanya beberapa RT, yang lainnya ya bayar"

"Kok bisa sini gratis sana bayar?" "Jadi ceritanya dulu sungai di sini juga mau dikelola PDAM, tapi pas pengurusnya itu meninggal, jadi yang di sini diserahin ke warga. Klo yang RT lain-lain itu ya tetap jadi dikelola sama PDAM, jadinya ya mbayar."

***

Air yang sama dari Pencipta yang sama, saat beda pengelolaan beda harganya. Begitulah yang terjadi pada semua perkara di negeri tercinta ini.

Bukan hartanya yang tak mampu buat sejahtera rakyat. Tapi pengelolaannya yang bikin rakyat justru melarat. Di tengah kekayaan alam yang tersemburat dari langit dan darat.

Negeri penuh berkat yang didominasi korporat. Syariat ditelantarkan bahkan dibuatkan hukum agar bisa dijerat. Yang bersuara kuat akan dibabat.

Walhasil rakyat sekarat di balik kekayaan alam yang berlipat-lipat. Masihkah sepakat dengan pengelolaan gaya liberal sekuler yang teramat jahat?

-Wati Umi Diwanti-
Syawal2, 16.06.18

Posting Komentar

My Instagram

Designed By OddThemes | Distributed By Blogger Templates