Berantas Hoax Hingga Tuntas

BERANTAS HOAX HINGGA TUNTAS
Oleh: Wati,SPd

(Radar Banjarmasin 14-01-17)

Sebaran informasi saat ini melebihi kecepatan pesawat tanpa awak. Sekali tekan dalam hitungan detik mampu mencapai berbagai belahan dunia. Tentunya merupakan kemajuan yang patut diapresiasi karena banyak manfaat yang bisa dihasilkan. Namun yang meresahkan adalah dimana saat ini hoax sudah sangat liar berkeliaran di media-media sosial.  Banyak pihak mulai berupaya menghentikannya, mulai dari nasihat personal dari individu yang sadar hingga membentuk sebuah aksi nyata untuk deklarasi 'Komunitas Masyarakat Indonesia Anti Hoax' seperti yang terjadi tanggal 8 Januari lalu serentak di 6 kota yakni Jakarta, Surabaya, Semarang, Solo, Wonosobo, dan Bandung (detik.com/08-01-17).

Pemerintah pun mulai bereaksi, melalui Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto berencana membentuk Badan Siber Nasional (Basinas) untuk memberantas kejahatan dunia maya. Demikian juga pengamat multimedia Heru Sutadi turut bersuara, menurutnya kebijakan tersebut tidak tepat untuk memberantas isu liar di dunia maya. Harusnya pemerintah memisahkan peran Basinas dengan pemberantasan isu hoax. Basinas cukup fokus terhadap revolusi digital untuk perlindungan ekonomi digital, terutama transaksi keuangan. (detik.com/06-01-17).

Ketua Komisi III DPR Bambang Soesatyo pun turut merespon dengan memberikan saran agar Presiden Jokowi mendorong biro humas dan PPID di seluruh kementerian dan lembaga serta institusi turunannya lebih responsif. "Presiden perlu mendorong semua K/L, kantor gubernur, para bupati, dan wali kota untuk segera meningkatkan efektivitas peran biro humas dan PPID masing-masing”. Menurutnya kekacauan ini bisa ditangkal dan tertib umum akan terjaga jika aparatur pemerintah pusat dan daerah sigap meluruskan berita bohong (detik.com/09-01-17).

Berita hoax ini bukan persoalan baru namun respon dari pemerintah baru saja mencuat bersamaan dengan semakin ‘beraninya’ umat dalam menyampaikan aspirasi dan koreksi pada penguasa. Bahkan mereka mempunyai kekuatan untuk membuat arus pemberitaan bersebarangan dengan media-media mainstream yang ada, dan mampu memenangkan opini yang berkembang di masyarakat. Semoga respon pemerintah ini bukanlah sikap tendesius pada kebangkitan Islam yang  telah mengganggu kepentingan golongan tertentu di negeri ini. Karena jika berbicara hoax maka sebagaimana menurut wikipedia, hoax adalah sebuah pemberitaan palsu adalah usaha untuk menipu atau mengakali pembaca/pendengarnya untuk mempercayai sesuatu, padahal sang pencipta berita palsu tersebut tahu bahwa berita tersebut adalah palsu. Salah satu contoh pemberitaan palsu yang paling umum adalah mengklaim sesuatu barang atau kejadian dengan suatu sebutan yang berbeda dengan barang/kejadian sejatinya (id.wikipedia.org).

Jika berpedoman pada pengertian ini maka sesungguhnya yang terlebih dulu dan paling sering  menjadi pengedar hoax ini adalah media-media profesional yang ada. Mengapa dibiarkan dan sepertinya memang tersistem secara legal arus pemberitaannya sesuai kepentingan tertentu. Pada umumnya adalah adanya kepentingan segelintir pengusaha dibalik penguasa.

Karena sudah terlalu sering mendapat hoax inilah sebenarnya yang menjadikan umat tidak lagi percaya hingga akhirnya menjadikan sosmed sebagai alternatif sumber dan media penyebaran informasi yang digandrungi. Jika murni sebagai aksi berantas hoax maka hukum harus menyentuh semua pihak dengan seadil-adilnya. Tidak hanya pada pengguna medsos tetapi juga pada praktisi media profesional.
Sebagaimana Allah SWT berfirman “Apabila datang kepada mereka suatu berita tentang kemenangan atau ketakutan, mereka menyiarkannya. Kalau saja mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya akan dapat mengetahuinya dari mereka (Rasul dan ulil amri). Kalau bukan karena karunia dan rahmat Allah kepada kalian, tentu kalian mengikuti setan, kecuali sebagian kecil saja (di antara kalian).” (an-Nisa: 83). Ayat ini menyatakan bahwa Allah SWT menyerahkan pengaturan masalah sebaran informasi kepada ulil amri atau penguasa dengan meneladani apa yang pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW.

Maka dalam pemberantasan hoax ini pun negaralah yang harus berada di garda depan. Secara individu, pencegah utama dalam penyebaran hoax adalah ketakwaan individu. Negaralah yang mampu mewujudkan ketaqwaan individu secara merata dengan melaksanakan sistem pendidikan yang komprehensif berasas aqidah Islam. Sehingga menghasilkan individu yang memahami bahwa setiap apa yang diperbuat termasuk di dalamnya aktivitas menyebar informasi, juga akan diminta pertanggung jawabannya kelak disisi Alloh SWT. Standar bahagia masyarakat pun terbentuk dan tertuju pada pencarian ridho Alloh, bukan materi seperti didikan sistem kapitalis saat ini.

Demikian juga masih dalam aksi preventif negara harus menjalankan sistem ekonomi yang mampu menghadirkan keterjaminan setiap warga negara dalam mendapatkan hak-hak pemenuhan kebutuhannya dengan layak. Ini sangat penting karena tidak dipungkiri banyaknya hoax saat ini selain karena ketidakpahaman terhadap kebenaran dan ketidak takutan terhadap dosa. Juga banyak yang bermotif ekonomi. Jaminan kesejahteraan yang dihadirkan oleh sistem ekonomi Islam membuat mereka tidak perlu memanfaatkan hoax hanya demi mendapatkan pemenuhan kebutuhan hidup. Ditambah dengan pelaksanaan sanksi yang adil dan setimpal pada setiap pelaku pelanggaran. Ini merupakan aksi prefentif dan sekaligus kuratif yang membuat efek jera yang mampu mencegah kejadian serupa.

Dilengkapi dengan keharusan negara memiliki SDM yang mumpuni, serta memiliki teknologi teknologi informasi yang canggih guna mendeteksi sedini mungkin sebaran berita hoax. Dan teknologi ini harus mandiri bebas intervensi dari negara lain. Karena tidak hanya sekedar dapat menangkal hoax, peran media dalam sebuah negara teramat strategis. Selain untuk memberikan pendidikan dan menampakkan kemuliaan Islam. Juga sebagai sarana menyebarkan idiologi dan mengokohkan posisi sebuah negeri dimata dunia.

Oleh karena itu dalam Islam pengaturan media informasi merupakan hal yang sangat penting. Pada struktur negara khilafah informasi dikelola khusus dalam dua jawatan. Pertama adalah jawatan yang bertugas mengurusi informasi yang berkaitan langsung dengan negara, seperti masalah kemiliteran, industri militer, hubungan internasional dan sebagainya. Jawatan ini langsung berada dibawah kendali kepala negara yang disebut Khalifah. Boleh dan tidaknya berita yang menjadi bagian jawatan ini harus dengan izin Khalifah. Dalam hal ini Khalifah memutuskan berdasarkan pertimbangan hukum syara’ dengan orientasi menjaga stabilitas kewibawaan negara. Inilah salah satu sebab kenapa seorang khalifah harus memenuhi tujuh syarat syah menjadi kepala negara. Islam, laki-laki, baligh, berakal, adil, merdeka dan setelah enam syarat sebelumnya dipenuhi maka syarat ke tujuh inilah yang dikompetensikan diantara para calon  khalifah. Siapa yang paling memiliki kemampuan. Termasuk diantara syarat afdholiyah seorang kholifah adalah seorang mujtahid.

Kedua adalah jawatan yang dikhususkan mengurusi informasi selain yang diurusi jawatan pertama. Dalam hal ini baik media resmi negara ataupun swasta tidak memerlukan izin untuk menyebarkan informasi tersebut. Hanya saja pemilik media wajib bertanggung jawab atas penyebaran informasi didalamnya. Termasuk masalah hoax ini maka akan ditindak sebagaimana pelanggaran hukum syara yang dilakukan individu. Semuanya diatur dalam undang-undang yang menjelaskan garis-garis umum politik negara mengatur informasi sesuai ketentuan hukum-hukum syariah. (Struktur Negara Khilafah, HTI Press,2011,238-244).

Demikian pengelolaan Islam terhadap media informasi, yang darinya tidak hanya efektif untuk memberantas hoax. Tetapi juga mampu menjadi sarana pencerdasan umat serta menyebarkan opini kemuliaan negara pada negara-negara lain di dunia. Membuat umat lain mengagumi sekaligus segan dibawah kewibawaan negara dengan sistem yang jelas dan konsisten yaitu Sistem Pemerintahan Islam. Allahu a'lam.



Posting Komentar

My Instagram

Designed By OddThemes | Distributed By Blogger Templates