Agar Istiqomah


//Agar Istiqomah//



Baru masuk hari 6 jamaah tarawih sudah mengalami kemajuan pesat. Maju shoffnya tinggal beberapa di bagian depan. Sisanya entah kemana.

Makin mendekati hari raya biasa jamaah Mesjid makin lengang. Jamaah pasar tambah jejal. Tadarus tambah kian sayup, dapur tambah sibuk.

Sebenarnya amal itu apapun, memang yang paling susah itu ya istiqomah. Padahal istiqomah itulah nilai paling tinggi dari sebuah amal.

Ngaji selembar setiap hari itu lebih baik daripada semalam 10juz tapi stelahnya ga ngaji lagi.

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ»

“Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang rutin dilakukan meskipun sedikit”.
(Hadits Shahih, Riwayat Bukhori dan Muslim)

Mumpung Ramadan, gunakan waktu yang berkah ini untuk menanamkan habits. Kadi beramalnya bisa istiqomah karna sudah jadi habits/kebiasaan.

Gimana caranya? Ada yang bilang rutinkan melakukan selama 30 hari. Ada juga yang bilang 3 kali 30 hari.

Apapun yang terjadi ga boleh ada toleransi. Insya Allah setelahnya jika tak dilakukan akan merasa kehilangan.

Nah biasanya itu kan justru terhenti karena ada beberapa kendala. Biasa kita sebut ujian. Dan ujian ini tiap orang beda-beda.

Karenanya yang harus kita lakukan selanjutnya adalah mengidentifikasi kendala yang ditemukan. Coba kita list apa yang biasa muncul sebagai penghalang.

Misal pergi pengajian. Minggu ini kita sakit, mgu depan anak yang sakit, minggu depannya lagi suami sakit.

Coba cek ada apa dengan rumah kita kok sakitnya ga berhenti-berhenti. Barangkali masalah makanan, kebersihan. Maka bereskan sumbernya. Atau murni ujian.

Dalam artian smua sudah baik tapi qhodo Allah kita sekeluarga diuji di penyakit. Nah berarti inilah titik lemah kita. Karena Allah itu memang menguji di titik lemah kita.

Bukan untuk melemahkan tapi utk menguatkan. Maka lawanlah/rubahlah. Jika sakitnya masih bisa diarit (ditahan, bhs banjar). Maka jangan menyerah. Jadikan lemah sebagai motivasi pahala yang pasti ditambah.

Baik kita atau anak kita. Hanya saja mungkin persiapan harus ekstra terkait keamanan dari udara panas atau hujan saat di jalan. Jangan lupa perkuat niat.

Jangan lupa minta ke Allah dengan berangkat menuntut ilmu itu Allah justru hilangkan penyakit kita atau anak kita tadi. Dan ini modalnya harus yakin, ga terjadi apa. Lillah. Insya Allah tak akam la ujian itu sirna.

Atau setiap mau sedeqah pasti dapat musibah. Jadilah urung mengeluarkan sebesar niat. Maka caranya juga harus di lawan. Tetap keluarkan, kalo bisa malah ditambah. Niatkan bahwa dengan itu Allah hilangkan musibah kita. Insya Allah.

Misalnya taraweh, apa yang biaanya bijin kita terhenti. Rempong bikin jajanan lebaran. Kesehatan menurun atau apa. Harus dilawan sekuat tenaga. Jangan kasih jeda. Kecuali halangan wajib bagi wanita.

Dan seterusnya. Karna ujian itu jika dihadapi kita akan kuat dan mahir. Jika dihindari itulah kekalahan kita yang sejati. Istiqomah akan menjadi mimpi.

Jadi sekarang tinggal tanyakan pada diri kita, maukah mendapatkan kebaikan yang lebih baik dari seribu karomah? Jika mau, maka berjuanglah untuk istiqomah.

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” [Ar-Ra’d/13:11].

Maka kitalah yang harus memperjuangkan. Terus lakukan, hingga ujian itu yang menyerah. Sedandkan kita bisa mendekap istiqomah.

Satu hal, di sini sangat penting skala prioritas amal menjadi perhitungan. Jangan sampai mengejar istiqomah amal sunah sampai melalaikan kewajiban. Meski sifatnya kondisional.

Lebih baik lagi jika yang wajib dan sunah sama-sama diperjuangkan untuk istiqomah. Insya Allah hidup tambah berkah. Dunya wal akhirah.

Semoga menjadi sedikit pencerah, minimal menjadi pengingat bagi yang menuliskannya.

-Wati Umi Diwanti-
Ramadan6, 22.05.18

Posting Komentar

My Instagram

Designed By OddThemes | Distributed By Blogger Templates